JAKARTA, CS – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengimbau para guru untuk turut menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama para siswa di dalam kelas. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya edukasi tata cara makan yang baik sekaligus memastikan kelayakan makanan sebelum dikonsumsi murid.
Imbauan tersebut disampaikan Sudaryono saat menghadiri rapat koordinasi pelaksanaan program MBG bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, beserta jajaran BGN tingkat pusat dan daerah.
Sudaryono menjelaskan bahwa kehadiran guru dalam mendampingi siswa selama ini sudah sangat membantu, mulai dari mengarahkan antrean, memandu cuci tangan, hingga memimpin doa bersama. Kendati demikian, ia menilai momentum makan bersama di kelas dapat memperkuat fungsi edukasi character building dan tata krama siswa.
“Saya memohon kesediaan bapak dan ibu guru untuk menyantap menu MBG bersama siswa. Tujuannya sebagai sarana edukasi—baik untuk kebiasaan cuci tangan, berdoa, maupun tata krama saat makan,” ujar Sudaryono melalui keterangan resmi di akun Instagram miliknya.
Peran Guru Sebagai Benteng Terakhir Keamanan Makanan
Selain nilai edukasi, BGN juga menekankan pentingnya peran guru sebagai pihak terakhir yang melakukan uji organoleptik (pemeriksaan kelayakan fisik makanan melalui indra penglihatan dan penciuman).
Jika menemukan kondisi makanan yang dinilai tidak layak atau mencurigakan, guru diwajibkan untuk langsung menahan dan tidak membagikannya kepada siswa.
Poin Penting Aturan Baru MBG:
- Uji Kelayakan Organoleptik: Guru menjadi penilai akhir kelayakan makanan sebelum dikonsumsi murid.
- Label Batas Waktu: Mulai pekan depan, setiap tempat makan (ompreng) akan dilengkapi label petunjuk batas waktu konsumsi.
- Larangan Konsumsi Kadaluarsa: Makanan yang sudah melewati batas jam tertera dilarang keras untuk dikonsumsi, baik oleh siswa maupun guru.
Larangan Membawa Pulang Makanan ke Rumah
Sudaryono juga menyoroti kebiasaan sebagian siswa yang kerap membungkus dan membawa pulang porsi makanan MBG untuk diberikan kepada keluarga di rumah. Ia memahami bahwa bagi sebagian anak—terutama di daerah pelosok—menu seperti telur, daging ayam, dan ikan merupakan hidangan istimewa.
Namun, ia menegaskan agar kebiasaan tersebut dihentikan demi keselamatan kesehatan. Makanan yang disimpan terlalu lama berisiko mengalami penurunan kualitas dan terkontaminasi bakteri.
“Banyak anak-anak kita yang hatinya sangat baik, teringat orang tua di rumah lalu membungkus makanannya. Namun, sesuai petunjuk teknis, makanan MBG sebaiknya tidak dibawa pulang,” tegasnya.
Berdasarkan evaluasi BGN, beberapa kasus gangguan kesehatan dan indikasi keracunan di daerah justru dialami oleh anggota keluarga di rumah akibat mengonsumsi makanan MBG yang sudah basi atau rusak karena perjalanan dan penyimpanan.
Sebagai langkah pencegahan, BGN meminta pihak sekolah untuk mencatat siswa yang kedapatan membawa pulang makanan, serta memberikan edukasi langsung kepada orang tua mengenai risiko kesehatan dari makanan yang sudah melewati batas waktu konsumsi.*


