JAKARTA, CS – Indonesia untuk pertama kalinya akan mengekspor beras premium ke Malaysia sebanyak 1.000 ton. Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua negara.
Ekspor perdana ini sekaligus membuka peluang pengiriman beras Indonesia ke Malaysia dalam jumlah yang jauh lebih besar, hingga mencapai 200.000 ton dengan nilai sekitar Rp3,4 triliun.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, mengatakan ekspor tersebut menjadi sinyal bahwa produksi beras nasional mulai memiliki ruang untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri setelah kebutuhan domestik dipastikan tercukupi.
“Ekspor beras ke Malaysia yang bersamaan dengan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi optimisme baru bahwa Indonesia semakin berdaulat dalam pangan,” kata Qodari dalam keterangannya.
Menurut Qodari, peningkatan produksi beras nasional menjadi salah satu faktor yang memungkinkan Indonesia mulai memperluas pasar ekspor. Ia merujuk proyeksi Food and Agriculture Organization (FAO) yang memperkirakan produksi beras Indonesia pada 2026/2027 mencapai sekitar 38,6 juta ton.
Angka tersebut meningkat sekitar 4,6 juta ton dibandingkan produksi 34 juta ton pada 2024/2025. Sementara itu, konsumsi beras domestik pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 31 juta ton.
“Dengan perkiraan konsumsi domestik sekitar 31 juta ton pada 2026, peningkatan produksi tersebut memberikan fondasi yang lebih kuat bagi ketahanan pangan sekaligus membuka peluang pasar ekspor,” ujar Qodari.
FAO juga menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia setelah India, China, dan Bangladesh. Pemerintah menilai peningkatan produksi tersebut dapat menjadi modal bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam perdagangan pangan global.
Meski demikian, pemerintah memastikan ekspor beras ke Malaysia tidak akan mengurangi ketersediaan beras untuk masyarakat Indonesia.
“Pemerintah memastikan bahwa ekspor beras ke Malaysia tidak akan mengganggu pemenuhan kebutuhan beras masyarakat Indonesia. Pemerintah tetap mengutamakan kecukupan stok dan stabilitas pangan nasional,” kata Qodari.
Saat ini, stok beras Indonesia disebut mencapai sekitar 5,2 juta ton dan dipastikan aman hingga Mei 2027.
Qodari menegaskan bahwa ekspor bukan menjadi tujuan akhir dari kebijakan perberasan nasional. Pemerintah tetap perlu memastikan produktivitas pertanian meningkat secara berkelanjutan, harga beras tetap terjangkau, serta kesejahteraan petani ikut terdongkrak.
“Yang lebih penting adalah memastikan peningkatan produktivitas berkelanjutan, menjaga harga dan pasokan yang terjangkau bagi masyarakat, memperluas akses pasar, serta bagaimana seluruh pencapaian ini mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Dengan demikian, ekspor perdana 1.000 ton beras premium ke Malaysia tidak hanya menjadi langkah pembukaan pasar baru, tetapi juga menjadi ujian bagi kemampuan Indonesia menjaga keseimbangan antara ketahanan pangan domestik dan peluang ekspor.*


