PARIMO, CS – Krisis ketersediaan air mulai membayangi musim tanam di Kecamatan Balinggi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo). Sebanyak 5.533 hektare lahan sawah kini masih menunggu kepastian debit air dan turunnya hujan sebelum jadwal tanam kembali ditetapkan.

Penurunan debit air di Bendungan Sausu, yang menjadi salah satu sumber utama pengairan pertanian di wilayah tersebut, membuat jadwal tanam yang sebelumnya telah disusun petani harus mengalami perubahan.

Camat Balinggi, Hasanuddin, mengatakan belum ada kepastian waktu penanaman karena kondisi ketersediaan air masih menjadi pertimbangan utama.

“Jadwal tanam sebenarnya sudah ada. Namun, karena adanya penurunan debit air di Bendungan Sausu, jadwal tanam mengalami perubahan,” kata Hasanuddin saat ditemui, Rabu (9/9/2026).

Menurutnya, petani masih menunggu debit air bendungan kembali meningkat serta curah hujan mulai turun. Kedua kondisi tersebut menjadi pertimbangan sebelum jadwal tanam kembali disusun.

“Belum ditentukan kapan. Nanti melihat kalau debit air sudah mulai naik dan curah hujan sudah ada, perencanaan akan kembali dilakukan,” ujarnya.

Hasanuddin menjelaskan, kelompok tani nantinya akan kembali membahas waktu penanaman setelah ketersediaan air dinilai mencukupi untuk mendukung kegiatan pertanian.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena areal persawahan di Kecamatan Balinggi mencapai 5.533 hektare. Jika keterbatasan air berlangsung lebih lama, siklus tanam petani berpotensi ikut bergeser.

Tidak hanya berdampak pada kegiatan pertanian, perubahan jadwal tanam juga dapat memengaruhi produktivitas serta pendapatan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor tersebut.

Saat ini, pemantauan terhadap debit air Bendungan Sausu dan curah hujan terus dilakukan. Hasil pemantauan akan menjadi dasar bagi kelompok tani untuk menentukan kembali jadwal tanam ketika kondisi air dinilai memungkinkan.

Bagi petani Balinggi, kepastian air kini menjadi penentu kapan ribuan hektare sawah tersebut dapat kembali ditanami.

Reporter: Anum