PANDEGLANG, CS – Pencarian terhadap rombongan yang terdiri dari lima jurnalis, dua anak buah kapal (ABK), serta seorang pemandu di kawasan Gunung Anak Krakatau resmi dihentikan oleh Tim SAR Gabungan. Langkah ini diambil usai pencarian maraton selama sepuluh hari tidak membuahkan hasil terkait keberadaan Kapal Arupadhatu I yang mereka tumpangi.
Keputusan penghentian operasi secara resmi disampaikan oleh Gubernur Banten, Andra Soni, di kawasan Carita, Pandeglang. Ia menjelaskan bahwa seluruh jalur penyisiran telah dimaksimalkan, namun keberadaan para korban maupun bangkai kapal tetap belum bisa terdeteksi.
“Tadi disampaikan bahwa sejak pelaksanaan hari pertama operasi gabungan pencarian dan pertolongan sampai dengan hari ke-10, secara umum tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun penumpang atau awak yang berada di kapal tersebut,” ujar Gubernur Banten Andra Soni.
Sepanjang sepuluh hari penyisiran, petugas sebenarnya sempat menemukan 13 barang terapung seperti rompi pelampung, helm, terpal, hingga galon air. Namun, hasil identifikasi bersama Polairud memastikan seluruh temuan material tersebut tidak berkaitan dengan Kapal Arupadhatu I. Karena area pencarian dinilai sudah tidak lagi efektif, operasi gabungan akhirnya diselesaikan.
Meski penyisiran aktif dihentikan, proses pemantauan arus perairan Selat Sunda terus berjalan. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menegaskan pihaknya terus berkoordinasi dengan instansi maritim dan kapal-kapal melintas untuk memantau pergerakan di laut.
“Operasi SAR ini tidak berhenti sampai di sini. Apabila ada informasi atau tanda-tanda baru, operasi SAR akan dinyatakan dibuka kembali,” kata Al Amrad.
Pada hari terakhir operasi, penyisiran difokuskan melingkupi perairan Teluk Semangka hingga radius perairan Gunung Anak Krakatau dengan total area mencapai 8.509 mil laut persegi. Operasi berskala besar yang membentang dari Banten hingga Bengkulu ini telah mengerahkan 24 unit alut pasukannya, termasuk KN SAR Basudewa, KRI Lepu, KAL Pohawang, serta armada RIB milik SAR Lampung.*


