TEHERAN, CS – Iran mulai memberikan izin terbatas bagi kapal-kapal energi asal Asia untuk kembali melintasi Selat Hormuz di tengah masih berlangsungnya ketegangan geopolitik dan kebuntuan negosiasi perang di kawasan Timur Tengah.

Televisi pemerintah Iran melaporkan sekitar 30 kapal telah melintasi jalur strategis tersebut sejak Rabu (13/5/2026) setelah memperoleh izin dari Teheran. Langkah itu menandai peningkatan signifikan aktivitas pelayaran di salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia.

Seorang pejabat Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan kebijakan terhadap “kapal musuh” tidak berubah dan seluruh kapal tetap diwajibkan memperoleh izin sebelum memasuki Selat Hormuz.

Di antara kapal yang diizinkan melintas terdapat supertanker asal Tiongkok, Yuan Hua Hu, yang mengangkut hampir dua juta barel minyak mentah dari Timur Tengah menuju Teluk Oman. Media semi-resmi Iran melaporkan izin tersebut merupakan bagian dari koordinasi diplomatik antara pemerintah Iran dan Tiongkok.

Selain kapal Tiongkok, tanker minyak Jepang Eneos Endeavor juga dilaporkan berhasil keluar dari Teluk Persia setelah sempat menghentikan siaran lokasi selama dua hari. Dua kapal tanker LPG tujuan India turut melintasi selat dengan transponder dimatikan demi alasan keamanan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan negaranya tidak menghalangi kapal dagang untuk melintas di Selat Hormuz selama kapal tersebut berkoordinasi dengan otoritas Iran.

“Amerika Serikat-lah yang memberlakukan blokade itu, dan saya berharap situasi ini akan berakhir dengan dicabutnya blokade ilegal yang diberlakukan AS,” ujarnya kepada media pemerintah Iran.

Sementara itu, Amerika Serikat masih mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang diberlakukan sejak April lalu. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengklaim telah mengalihkan puluhan kapal dagang dan membatasi sejumlah pelayaran sejak konflik meningkat.

Sebelum konflik pecah, rata-rata lebih dari 130 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun dalam beberapa pekan terakhir, lalu lintas kapal sempat turun drastis akibat ketegangan militer dan pembatasan dari kedua pihak. *