MOROWALI, CS – Ketua Tim Kerja IBR Morowali, Asfar, mengajak generasi muda untuk ikut menjaga habitat penyu dan mendukung gerakan konservasi lingkungan secara berkelanjutan dalam momentum peringatan Hari Penyu Sedunia, Sabtu (23/5/2026).

Hari Penyu Sedunia diperingati setiap 23 Mei di berbagai negara sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan hidup penyu sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Indonesia diketahui menjadi habitat bagi enam dari tujuh spesies penyu di dunia. Kondisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu wilayah penting dalam upaya konservasi penyu secara global.

Asfar menilai keterlibatan generasi muda sangat dibutuhkan dalam menjaga kelestarian habitat penyu.

Menurut dia, pemuda memiliki peran strategis sebagai penggerak kesadaran lingkungan di tengah masyarakat.

“Perlindungan penyu tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha di wilayah pesisir,” ujar Asfar dalam rilis persnya.

Ia mengatakan edukasi lingkungan perlu terus diperkuat agar masyarakat memahami dampak kerusakan habitat penyu terhadap ekosistem laut. Selain itu, ia juga mengajak pemuda untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan konservasi di wilayah pesisir.

“Aspek kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga populasi penyu tetap bertahan. Penyu bukan hanya satwa laut biasa, tetapi bagian penting dari keseimbangan ekosistem,” katanya.

Di samping itu, Ketua IBR Morowali mengajak generasi muda agar lebih aktif terlibat dalam kegiatan sosial dan lingkungan. Menurut Asfar, pemuda memiliki energi dan kreativitas yang dapat memperkuat kampanye pelestarian lingkungan di daerah pesisir.

Menurut Asfar, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan lingkungan dapat memperkuat gerakan pelestarian alam dalam jangka panjang. Karena itu, ia berharap pemerintah, perusahaan, sekolah, dan komunitas lokal dapat menghadirkan lebih banyak program edukasi tentang konservasi laut.

Penyu dikenal sebagai satwa purba yang telah hidup sejak jutaan tahun lalu. Hewan laut tersebut bahkan mampu bermigrasi ribuan kilometer melintasi samudra untuk kembali ke habitat asalnya saat berkembang biak.

Sementara itu, populasi penyu di Indonesia masih menghadapi berbagai ancaman, seperti sampah plastik di laut, kerusakan pantai tempat bertelur, serta praktik perburuan liar. Sampah plastik menjadi salah satu penyebab utama kematian penyu karena sering dianggap sebagai makanan oleh satwa tersebut.

Melalui momentum Hari Penyu Sedunia, Ketua IBR Morowali mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga habitat penyu demi menciptakan ekosistem laut yang sehat, bersih, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Masyarakat juga diimbau untuk mulai menerapkan langkah sederhana dalam menjaga lingkungan laut, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menjaga kebersihan pantai, dan tidak membuang sampah ke laut maupun sungai.

Reporter: Murad