Pertemuan Timnas Belanda dan Jepang pada laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi salah satu duel paling menarik di fase grup.

Selain mempertemukan dua tim yang tampil impresif sepanjang babak kualifikasi, pertandingan ini juga menghadirkan cerita unik tentang hubungan panjang sepak bola Jepang dengan Belanda.

Selama bertahun-tahun, Jepang menjadikan Belanda sebagai salah satu referensi penting dalam pengembangan pemain muda. Banyak pemain Samurai Biru mengasah kemampuan di kompetisi Eredivisie sebelum berkarier di liga-liga elite Eropa. Tak heran jika duel ini kerap disebut sebagai pertarungan “murid melawan guru”.

Di kubu Belanda, pelatih diperkirakan masih akan mengandalkan ketajaman Memphis Depay di lini depan. Penyerang yang menjadi top skor Belanda pada fase kualifikasi itu mencatatkan delapan gol dan empat assist, sekaligus mempertegas statusnya sebagai salah satu pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah De Oranje.

Dukungan juga datang dari Cody Gakpo yang tampil konsisten bersama Liverpool, serta Denzel Dumfries yang baru saja menjalani musim gemilang bersama Inter Milan. Sementara di lini tengah, Frenkie de Jong tetap menjadi jenderal permainan yang mengatur ritme serangan Belanda.

Pertahanan Belanda masih dipimpin sang kapten Virgil van Dijk. Bek Liverpool tersebut diharapkan menjadi tembok kokoh untuk meredam agresivitas lini serang Jepang. Namun De Oranje juga harus kehilangan Jurrien Timber yang dipastikan absen akibat cedera.

Di sisi lain, Jepang datang dengan generasi emas yang semakin matang. Takefusa Kubo menjadi sosok sentral dalam permainan Samurai Biru. Mantan wonderkid yang pernah tampil di Piala Dunia 2022 itu kini menjelma menjadi pemimpin baru di sektor serangan Jepang.

Lini depan Jepang juga bertumpu pada Ayase Ueda yang tampil tajam bersama Feyenoord. Ketajamannya selama kualifikasi membuatnya menjadi salah satu pemain yang patut diwaspadai lini belakang Belanda.

Meski demikian, Jepang menghadapi tantangan berat setelah kehilangan beberapa pemain penting akibat cedera. Kapten tim Wataru Endo belum pulih sepenuhnya, sementara Kaoru Mitoma harus dicoret karena mengalami cedera hamstring. Absennya dua pemain tersebut membuat pelatih Jepang harus melakukan sejumlah penyesuaian di lini tengah dan sektor sayap.

Sebagai gantinya, Ko Itakura diproyeksikan mengambil peran lebih besar dalam memimpin lini belakang bersama Hiroki Ito dan Takehiro Tomiyasu. Di lini tengah, kreativitas permainan Jepang akan banyak bertumpu pada Ritsu Doan dan Daichi Kamada.

Secara kualitas individu, Belanda sedikit lebih diunggulkan. Namun Jepang dikenal sebagai tim yang disiplin, cepat dalam transisi permainan, dan kerap menyulitkan tim-tim besar dunia. Kondisi tersebut membuat laga pembuka Grup F diperkirakan berlangsung ketat sejak menit pertama.

Pertandingan ini bukan hanya soal perebutan tiga poin awal, tetapi juga menjadi panggung pembuktian dua negara yang memiliki hubungan panjang dalam pengembangan sepak bola. Ketika “guru” dan “murid” bertemu di panggung terbesar dunia, hasil akhirnya bisa saja menghadirkan kejutan.*