JAKARTA, CS – Kementerian Agama (Kemenag) RI menggerakkan lebih dari 50 ribu masjid dan musala di seluruh Indonesia melalui Gerakan Bersih-Bersih Masjid (Geber Mas) 2026.
Gerakan yang diluncurkan secara nasional tersebut dipusatkan di Masjid Fatahillah, Balai Kota DKI Jakarta, dan diikuti secara hybrid oleh jajaran Kemenag, penyuluh agama, penghulu, pengurus masjid, hingga Dewan Masjid Indonesia (DMI), Senin (10/8/2026).
Menteri Agama, Nasaruddin Umar mengatakan Geber Mas tidak boleh dimaknai sebatas kegiatan kerja bakti membersihkan rumah ibadah. Lebih dari itu, gerakan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan melalui masjid.
Menurut Nasaruddin, kebersihan rumah ibadah memiliki kaitan erat dengan kenyamanan dan kekhusyukan umat dalam menjalankan ibadah.
“Rumah ibadah adalah meeting point antara hamba dengan Tuhan. Bagaimana orang bisa berkonsentrasi dalam ibadah kalau tempatnya kotor, pengap, atau tidak nyaman?” ujar Nasaruddin di Jakarta.
Ia mengajak masyarakat menjadikan kegiatan membersihkan masjid sebagai budaya bersama yang melibatkan keluarga dan jamaah.
Tidak hanya bagian dalam masjid, kebersihan toilet, tempat wudhu, saluran air, halaman hingga lingkungan sekitar juga harus menjadi perhatian.
“Datanglah ke masjid bersama keluarga. Bersihkan karpetnya, toiletnya, lingkungannya, perbaiki yang rusak. Jangan hanya masjidnya yang dibersihkan, tetapi juga selokan dan area di sekitarnya,” pesannya.
Nasaruddin juga mendorong perubahan cara pandang terhadap fungsi rumah ibadah. Menurutnya, masjid ke depan harus mampu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga pendidikan, sosial, ekonomi dan kebudayaan.
“Kita ingin rumah ibadah bukan hanya tempat beribadah. Rumah ibadah harus menjadi pusat penguatan ekonomi umat, budaya umat, dan peradaban umat,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, mengatakan Geber Mas merupakan bagian dari rangkaian peringatan Muharram sekaligus implementasi program prioritas Kemenag, khususnya penguatan ekoteologi dan pemberdayaan rumah ibadah.
Menurutnya, pelibatan lebih dari 50 ribu masjid dan musala menunjukkan besarnya potensi rumah ibadah sebagai penggerak kesadaran lingkungan di tengah masyarakat.
“Gerakan ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung Indonesia yang bersih, sehat, resik, dan indah. Karena itu, hari ini diikuti lebih dari 50 ribu masjid dan musala di seluruh Indonesia,” kata Abu.
Ia menegaskan Geber Mas tidak berhenti pada kegiatan peluncuran. Gerakan tersebut diharapkan menjadi kebiasaan yang terus dilakukan oleh pengurus masjid bersama masyarakat.
Abu menyebut toilet, kamar mandi, tempat wudhu, saluran air dan lingkungan sekitar rumah ibadah menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian lebih.
“Masjid yang bersih akan membuat ibadah lebih nyaman. Karena itu kami berharap para penyuluh agama memberikan perhatian lebih terhadap rumah-rumah ibadah di wilayahnya masing-masing,” ujarnya.
Dukungan terhadap gerakan tersebut juga datang dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Asisten Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi DKI Jakarta Ali Maulana Hakim menilai Geber Mas sejalan dengan upaya membangun budaya hidup bersih dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Ia mendorong kegiatan bersih-bersih masjid juga diikuti dengan pemilahan sampah dari sumber, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai serta penerapan prinsip reduce, reuse, recycle (3R).
“Masjid yang bersih akan melahirkan lingkungan yang bersih. Karena itu Geber Mas perlu terus dijaga sebagai gerakan bersama yang berkelanjutan,” katanya.
Melalui Geber Mas 2026, Kemenag berharap masjid dan musala tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga tumbuh sebagai pusat kepedulian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.*


