SIGI, CS – Ketua Komisi I DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Bartholomeus Tandigala, menghadiri kegiatan Penanaman Bawang Putih Serentak dalam rangka mendukung percepatan swasembada bawang putih nasional yang dipusatkan di Desa Oloboju, Kecamatan Sigi Kota, Kabupaten Sigi.
Kegiatan yang diikuti secara hybrid melalui Zoom Meeting tersebut menjadi bagian dari langkah strategis memperkuat produksi bawang putih dalam negeri sekaligus mendorong kemandirian pangan melalui optimalisasi potensi pertanian daerah.
Kegiatan itu turut dihadiri Kapolda Sulteng, Irjen. Pol. Nasri Sulaeman, Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae, jajaran Forkopimda Provinsi Sulteng, Camat Sigi Kota, para kepala desa, serta sejumlah unsur terkait lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bartholomeus Tandigala menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap langkah bersama dalam memperkuat sektor pertanian sebagai fondasi ketahanan pangan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Menurutnya, percepatan swasembada bawang putih tidak cukup hanya dilakukan melalui gerakan penanaman, tetapi harus dibangun sebagai program berkelanjutan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Penanaman bawang putih serentak ini merupakan langkah konkret dalam memperkuat ketahanan pangan. Namun, yang paling penting adalah memastikan keberlanjutannya. Petani harus mendapatkan dukungan secara menyeluruh, mulai dari benih berkualitas, teknologi budidaya, pendampingan, sarana produksi, hingga akses pasar,” ujar Bartholomeus.
Ia menilai Kabupaten Sigi memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor hortikultura, termasuk komoditas bawang putih.
Potensi tersebut, kata dia, perlu dikelola melalui pendekatan pertanian yang modern, inovatif, produktif, serta berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani.
“Kita ingin pertanian Sulawesi Tengah semakin maju dan memiliki daya saing. Ukuran keberhasilannya bukan hanya peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana hasil pertanian mampu memberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan petani,” katanya.
Bartholomeus juga menegaskan, pencapaian swasembada pangan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, petani, pemerintah desa, dunia usaha, akademisi, hingga seluruh pemangku kepentingan dinilai perlu membangun sinergi yang kuat agar program tersebut berjalan konsisten dan berkelanjutan.
Menurutnya, pengembangan bawang putih juga memiliki peluang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat pedesaan.
Peningkatan produksi yang dibarengi dengan penguatan rantai pasok, pengolahan, dan pemasaran diyakini dapat menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
“Swasembada pangan adalah agenda bersama. Dari Desa Oloboju, kita ingin membangun semangat dan optimisme bahwa Sulawesi Tengah memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap kemandirian pangan Indonesia,” tegasnya.
Bartholomeus, menekankan pentingnya memperkuat koordinasi dan sinergi lintas sektor agar pengembangan pertanian daerah terus tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia berharap penanaman bawang putih serentak tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan produktivitas, memperluas pengembangan komoditas bawang putih, serta mendorong peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat Sulteng.
“Kita berharap gerakan ini tidak berhenti pada seremoni penanaman, tetapi menjadi awal dari pengembangan bawang putih yang modern, produktif, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi petani serta masyarakat,” pungkasnya. *


