PARIMO, CS – Banjir bandang yang menerjang Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, Rabu (26/8/2026) dini hari, sempat melumpuhkan akses lalu lintas di jalur Trans Sulawesi.

Material lumpur dan gelondongan kayu yang terbawa arus menutup badan jalan sepanjang sekitar 500 meter. Kondisi tersebut menyebabkan arus kendaraan sempat mengalami kemacetan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parimo, melalui Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parimo, Moh Rivai, mengatakan akses jalan kini telah kembali dapat dilalui kendaraan.

“Arus lalu lintas sempat macet, sekarang sudah normal kendaraan sudah bisa melintas,” kata Rivai, Rabu (26/8).

Meski akses telah kembali terbuka, alat berat masih dikerahkan untuk membersihkan sisa lumpur dan material kayu yang menutup sejumlah bagian jalan.

Rivai mengimbau pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan. Kondisi jalan yang masih licin akibat material lumpur dinilai berpotensi membahayakan pengguna kendaraan.

“Meski begitu kami mengimbau pengguna jalan tetap berhati-hati karena jalan masih licin,” ujarnya.

Banjir bandang terjadi sekitar pukul 01.00 Wita setelah hujan lebat mengguyur wilayah Parimo. Luapan sungai membawa material lumpur dan potongan kayu hingga masuk ke permukiman warga.

Selain berdampak terhadap akses transportasi, banjir juga menyebabkan kerusakan dan merendam puluhan rumah warga.

Berdasarkan data sementara BPBD Parimo, sebanyak 12 rumah mengalami kerusakan, sementara 50 rumah lainnya terendam lumpur. Satu unit pabrik durian juga dilaporkan terdampak.

Pemkab Parimo telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai 26 Agustus hingga 8 September 2026.

Selama masa tanggap darurat, penanganan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, pembersihan lumpur di permukiman, serta normalisasi sungai.

Sekitar 200 personel TNI/Polri turut dilibatkan bersama tim gabungan dalam penanganan pascabanjir di Desa Avolua.

“Penanganan tanggap darurat tentunya melibatkan lintas sektor melalui kerja-kerja kolaborasi,” pungkas Rivai.

Reporter: Anum