JAKARTA, CS – Dewan Pers menyelenggarakan aksi doa bersama di kantor pusatnya, Jakarta, sebagai bentuk solidaritas atas musibah yang menimpa rombongan wartawan dan awak kapal di perairan Selat Sunda. Upaya spiritual ini ditujukan untuk memohon keselamatan sekaligus memberikan suntikan moral bagi keluarga korban yang hingga kini masih menantikan kepastian.

Musibah ini bermula ketika delapan orang dilaporkan hilang kontak sejak Senin, 7 September 2026. Kala itu, mereka sedang menjalankan tugas peliputan lapangan terkait aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di kawasan perairan Kabupaten Pandeglang, Banten.

Rombongan yang berada di atas kapal cepat KM Arupadatu I tersebut terdiri dari tiga orang awak kapal, yakni Warta (55) sebagai kapten, Surakman (60) selaku anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto (49) yang bertindak sebagai pemandu. Sementara itu, lima orang lainnya merupakan insan pers, yaitu M. Bagus Khoirunnas (Antara), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), serta Donal yang bertugas sebagai jurnalis lepas.

Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, menegaskan bahwa agenda doa bersama ini merupakan langkah ikhtiar untuk senantiasa memelihara harapan dan menguatkan batin keluarga para jurnalis serta kru kapal.

“Pertemuan siang ini tentu kita ingin menunjukkan kepada kita semua dan kepada Allah SWT bahwa kita tidak pernah putus terhadap rahmat-Nya. Kita terus berdoa, kita terus berupaya agar yang terbaik yang diberikan kepada kita semua sebagai keluarga besar pers di Indonesia yang kita cintai ini,” ujar Totok dalam sambutannya di Jakarta.

Totok menjelaskan bahwa acara dikemas secara sederhana namun khidmat, dengan fokus utama pembacaan doa dan pendampingan moral bagi pihak keluarga. Ia menambahkan bahwa institusinya memilih untuk tetap menyebut para korban sebagai insan pers yang tengah mengemban tugas negara karena keberadaan mereka yang belum bisa dipastikan secara mutlak.

“Sampai saat ini, saya pribadi menyebut teman-teman itu sedang bertugas. Karena kita tidak tahu mereka sekarang berada di mana. Yang bisa kita pastikan adalah mereka bekerja untuk kehebatan pers di Indonesia,” tutur Totok.

Dalam kesempatannya, Totok juga mengingatkan kembali bahwasanya tingkat risiko keselamatan yang tinggi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ikhtiar kerja pers. Profesi jurnalistik kerap menuntut kehadiran pekerja media di area-area berisiko tinggi demi menyampaikan kabar faktual kepada khalayak luas.

“Itulah risiko-risiko besar yang memang dihadapi oleh pers. Karena pers itu adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia,” ungkapnya.

Kegiatan penghujung acara diisi dengan ajakan dari Dewan Pers kepada seluruh insan media nasional untuk terus mempererat solidaritas, merapatkan barisan, serta konsisten menyalurkan dukungan moral maupun materiel kepada keluarga delapan korban yang terdampak musibah tersebut.*