INTERNASIONAL, CS – Isu kabut asap lintas batas imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bakal dibawa ke meja diplomasi regional. Pemerintah Malaysia berencana mengangkat persoalan tahunan ini dalam pertemuan menteri luar negeri ASEAN menjelang KTT ke-49 di Manila, Filipina, bulan depan.
Menteri Luar Negeri Malaysia, Datuk Seri Mohamad Hasan, menilai penanganan kabut asap membutuhkan pendekatan khusus. Pasalnya, mekanisme penanggulangan bencana alam yang dimiliki ASEAN saat ini belum memasukkan kabut asap ke dalam kriteria bencana alam.
“Kita memang sudah memiliki mekanisme ASEAN untuk bencana alam, namun kabut asap tidak termasuk atau diklasifikasikan sebagai bencana alam. Oleh karena itu, ini akan menjadi salah satu isu yang secara pribadi akan saya angkat dalam pertemuan dengan rekan-rekan sejawat saya,” tegas Mohamad Hasan, dikutip dari Malay Mail.
Kendati mendesak adanya perbaikan regulasi, Mohamad menyatakan pihak Kuala Lumpur tetap mengapresiasi kerja keras pemerintah Indonesia yang terus berupaya memadamkan titik api. Ia juga menyampaikan rasa simpati atas musibah yang menimpa wilayah Indonesia.
Meski demikian, Malaysia berharap ada langkah lanjutan yang lebih agresif dan efektif dari Pemerintah Indonesia. Dampak buruk dari paparan kabut asap dinilai sudah sangat mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat di negara-negara tetangga.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), area kebakaran lahan tercatat masih mencapai sekitar 639 hektare yang tersebar di enam provinsi. Saat ini, fokus pemadaman diprioritaskan pada dua wilayah dengan dampak cukup parah, yakni Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan.
Pemerintah Indonesia mengklaim keberhasilan pemadaman titik api telah menembus angka di atas 80 persen. Meski begitu, kepulan asap pekat masih terus terdeteksi dan dampaknya dirasakan hingga ke Singapura dan Malaysia.*


