Dinkes Donggala Klaim Kasus Stunting Menurun di 2023

dr Syahriar

DONGGALA-CS – Dinas Kesehatan (Dinkes) Donggala mengklaim telah terjadi penurunan kasus stunting di daerah tersebut. Trend penurunan stunting itu termuat dalam basis data sistem Elektonik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPBGM).  Data ini memuat data hasil pengukuran dan pelaporan gizi yang dientri setiap bulan oleh pengelola gizi di tiap-tiap Puskesmas.

Meski begitu, Kepala Dinkes Donggala dr Syahriar mengaku data itu belum terpublish dalam data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) yang diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam periode 1 tahun.

“Stunting di Donggala tahun ini turun sebelum dipublish ke SSGI karena kami juga punya data base E-PPBGM secara riltime setiap bulan data menyeluruh se Kabupaten Donggala. Maka tahun 2023 ada penurunan diangka 20 persen lebih. Jika di conversi ke data SSGI tahun 2022 itu 32,4. Ini terjadi penurunan. Namun data resmi SSGI hingga saat ini belum dipublish,”ungkap Syahriar.

Baca Juga :  Pelantikan PAW Anggota DPRD Donggala Datu Lamarauna Menunggu SK Gubernur

Menurutnya juga, jika data tersebut akan dipublish, maka pihaknya akan berdiskusi lebih dulu karena ada beberapa sistem pendataan yang sangat anomaly atau janggal dengan data SSGI.

Dimana kata Syahriar, data SSGI hanya mempublish seluruh Balita yang pendek yang sebenarnya belum tentu stunting. Contohnya ada ada beberapa yang tidak bisa dimasukkan dalam kelompok stunting.  Karena sebelum dihitung harus dibedakan apakah balita proporsional atau disproprsional. Kalau proporsional, maka jika dia stunting tetap akan bisa diintervensi dan dia bisa tidak menjadi stunting.

Tetapi jika Balita disprprosional, maka jika diintervensi dengan segudang gizi pun dia tidak akan berubah, karena ada kelainan misalnya dismorfic atau dia kelainan kromosom. Seperti contohnya artis Ucok baba dan Daus Mini. Kelompok disproprsioanal ini tidak akan bisa diubah dengan cara intervensi apapun.

“Harusnya ini tidak bisa dimasukkan dalam kelompok stunting. Inilah yang membuat angka stunting teralu tinggi,”jelasnya.

Baca Juga :  Reses di Ketong, Alex Terima Keluhan Jalan Rusak

Demikian halnya dengan faktor familiar genetic. Contohnya ayah dan ibu yang memang pendek, maka Balitanya tidak bisa dimasukkan dalam kelompok stunting. Karena biar diintervensi bagaimanapun jika secara genetic turunannya juga akan pendek. Bapak yang pendek menurutnya berpotensi 3 persen memberikan kontrbusi kepada anak menjadi stunting. Demikian pula ibunya. Olehnya itu familiar genetika ini tidak boleh dimasukkan dalam pengelompokan data stunting.

“Masalahnya di Puskesmas saat ini, tim memasukkan semua data itu sebagai data pengelompokan stunting.  Namun ini tidak bisa disalahkan. Karena setelah kami turun, memampuan SDM untuk menterjemahkan hal-hal ini belum maksimal. Olehnya salahsatu langkah adalah bagaimana mengedukasi dengan pelatihan dan sosialisasi untuk peningkatan kualitas SDM,”ujarnya.

Ketidakmampuan menerjemahkan identifikasi itu sebut Syahriar bukan hanya oleh tenaga non dokter. Bahkan dokter sekalipun masih banyak yang tidak mengerti. Karena itu, hal inilah yang sebenarnya yang membuat terjadi konflik interest karena ketidaktahuan dan saling menyalahkan.

Baca Juga :  DPD PKS Donggala Buka Pendaftaran Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati

“Padahal sebenarnya ini hanya tidak ditanyakan pada sumber yang memahami yang memahami saja,”sebutnya.

Padahal dalam Pepres 72 sudah sangat jelas dinyatakan bahwa stunting adalah gagal tumbuh dan kembang akibat kekurangan gizi secara kronis dan disertai penyakit menular. Gagal tumbuh dan kembang harus dibedakan. Tumbuh itu berkolerasi dengan tinggi atau panjang badan berdasarkan umur.  Sedangkan kembang berkolerasi dengan fungsi kognitif. Fungsi intekegensi, fungsi keceradasan sosial, emosional dan intelektual.

Seharusnya di Puskesmas, tim menggunakan beberapa parameter dalam mengidentifikasi stunting selain tinggi badan. Tapi juga perkembangan sensoric dan motoric atau kemampuan menggenggam.

“Jadi intinya harusnya Negara menggunakan data EPPBGM karena ini riltime setiap bulan. Kalau SSGI itu hanya data situasional setiap setahun sekali. Donggala untuk sementara menurun, walapun angkanya belum bisa mencapai target nasional,”pungkasnya (TIM)

Pos terkait