JAKARTA, CS – Para pelaku kejahatan siber terus melancarkan modus baru yang kian canggih. Terbaru, lembaga keamanan siber F6 membeberkan kampanye penipuan berskala global yang menargetkan sektor bisnis dan perdagangan internasional (business-to-business atau B2B), khususnya di negara-negara Commonwealth of Independent States (CIS).
Aksi penipuan yang telah terdeteksi berlangsung sejak 2017 ini bekerja dengan cara memalsukan situs web milik perusahaan-perusahaan besar untuk menyedot pembayaran dari para korban.
Cara Beroperasi: Salin Website dan Rekrut Sales Fiktif
Dalam menjalankan aksinya, para pelaku menyalin secara utuh konten dari situs resmi perusahaan ternama—mulai dari produsen pupuk, petrokimia, pabrik logam, hingga operator logistik dan perbankan.
Berikut alur modus penipuan yang perlu diwaspadai:
- Domain Mirip: Pelaku mendaftarkan nama domain yang sangat identik dengan domain asli perusahaan sasaran.
- Ubah Kontak & Rekening: Informasi kontak di situs web tiruan diganti agar seluruh komunikasi calon pembeli terhubung langsung ke sindikat penipu.
- Memanfaatkan Sales: Pelaku bahkan merekrut tenaga penjualan (sales) yang tidak menyadari bahwa mereka sedang diperalat untuk melakukan penawaran awal.
- Transfer ke Rekening Palsu: Setelah negosiasi berjalan, komunikasi ditangani oleh “manajer senior” palsu. Pelaku kemudian mengirimkan dokumen resmi fiktif—seperti proposal, kontrak, dan faktur lengkap dengan nomor rekening bank yang sudah mereka kendalikan.
Korban Mengalami Kerugian Miliaran Rupiah
Skema penipuan ini berdampak nyata pada finansial korbannya. Pada April 2025 lalu, sebuah perusahaan asal Azerbaijan dilaporkan mengalami kerugian hingga US$150.000 (sekitar Rp2,4 miliar) akibat terpedaya transaksi palsu ini.
Kasus serupa juga pernah terjadi pada 2017 di Rusia. Kala itu, sebuah perusahaan kimia kebanjiran keluhan dari para petani yang telah membayar uang muka (down payment) untuk pembelian pupuk, namun barangnya tak kunjung dikirim. Padahal, pihak perusahaan asli tidak pernah menerbitkan kontrak maupun menerima pembayaran tersebut.
Jangkauan Global dan Ancaman Reputasi
Peneliti keamanan siber F6 mencatat hampir 100 domain palsu yang saling terhubung melalui catatan DNS, alamat IP, dan data registrasi yang serupa.
Jika sebelumnya pelaku didominasi oleh domain .ru, kini jangkauan mereka semakin meluas menggunakan domain internasional seperti .com, .org, dan .net. Situs-situs palsu tersebut disajikan dalam empat bahasa utama:
- Inggris
- Prancis
- Arab
- Rusia
“Korban kehilangan uang, sementara perusahaan yang mereknya disalahgunakan mengalami kerusakan reputasi,” tegas Vera Kolenikova, Spesialis Senior Departemen Investigasi Kejahatan Siber F6.
Tips Pencegahan
Pihak F6 mengingatkan perusahaan yang bergerak di bidang ekspor-impor maupun transaksi antar-bisnis agar selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian. Langkah pencegahan paling efektif adalah memverifikasi secara mandiri nomor kontak dan detail rekening bank sebelum melakukan transfer dana.*


