Lembaga riset internasional Institute for Management Development (IMD) merilis laporan World Competitiveness Ranking 2026. Salah satu sorotan utama dalam laporan tersebut adalah indikator Efisiensi Bisnis (Business Efficiency), yang menggambarkan sejauh mana ekosistem suatu negara mendukung dunia usaha agar beroperasi secara inovatif, menguntungkan, dan bertanggung jawab.

Hasilnya menunjukkan ketimpangan yang lumayan lebar di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Singapura tampil prima mendominasi papan atas, sementara Indonesia masih tertahan di peringkat paling bawah untuk tingkat regional.

Daftar Peringkat Efisiensi Bisnis ASEAN 2026

Berdasarkan data riset IMD, berikut peta persaingan efisiensi dunia usaha di Asia Tenggara:

  • 1. Singapura
    • Skor: 100,00
    • Peringkat Global: #1
    • Keterangan: Menguasai posisi puncak regional sekaligus peringkat pertama secara global.
  • 2. Malaysia
    • Skor: 75,38
    • Peringkat Global: #16
  • 3. Vietnam
    • Skor: 70,58
    • Peringkat Global: #19
  • 4. Thailand
    • Skor: 67,33
    • Peringkat Global: #21
  • 5. Filipina
    • Skor: 60,49
    • Peringkat Global: #30
  • 6. Indonesia
    • Skor: 40,91
    • Peringkat Global: #50

Catatan Penting bagi Indonesia

Berada di urutan ke-50 dunia dan juru kunci di ASEAN menjadi alarm penting bagi ekosistem korporasi domestik. Penilaian efisiensi bisnis tidak hanya mengukur seberapa besar profit yang diraih perusahaan, melainkan juga menilai daya adaptasi terhadap teknologi baru serta penerapan manajemen yang bertanggung jawab.

Rendahnya skor Indonesia menandakan perlunya pembenahan mendasar di sejumlah area kritis, antara lain:

  • Peningkatan produktivitas tenaga kerja
  • Perbaikan kondisi pasar tenaga kerja
  • Perluasan akses pembiayaan dan sektor keuangan
  • Modernisasi praktik manajemen korporasi
  • Penguatan nilai dan sikap bisnis yang adil serta adatif

Metodologi Penilaian IMD

Riset World Competitiveness Ranking mengevaluasi lingkungan bisnis suatu negara melalui empat pilar utama: Performa Ekonomi, Efisiensi Pemerintah, Efisiensi Bisnis, dan Infrastruktur.

Keempat pilar tersebut dibagi lagi ke dalam 20 sub-faktor yang masing-masing berbobot 5%. Penilaiannya menggabungkan dua jenis sumber data:

  1. Hard Data (Bobot 2/3): Data statistik objektif seperti Produk Domestik Bruto (PDB) dan tingkat inflasi.
  2. Soft Data (Bobot 1/3): Hasil survei persepsi para eksekutif untuk merekam realitas iklim usaha di lapangan.