PALU, CS – Ketua Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Sulawesi Tengah (Sulteng), Syaifullah Djafar, mengungkapkan minimnya dukungan anggaran menjadi salah satu kendala utama dalam persiapan Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS).
Dari kebutuhan penyelenggaraan yang diperkirakan mencapai Rp40 miliar, KORMI Sulteng hanya memperoleh alokasi anggaran sebesar Rp600 juta di tahun 2026.
Hal itu disampaikan Ketua KORMI Sulteng dalam konferensi pers sebagai penjelasan atas proses persiapan FORNAS sebelum akhirnya KORMI Nasional mencabut status Sulteng sebagai tuan rumah.
Menurutnya, anggaran Rp600 juta yang diterima tidak hanya diperuntukkan bagi persiapan FORNAS, tetapi juga harus membiayai sejumlah agenda organisasi lainnya.
“Kami hanya menerima anggaran Rp600 juta. Anggaran itu harus membiayai Road to FORNAS, Festival Olahraga Masyarakat Tingkat Provinsi (FORPROV), operasional organisasi, hingga bantuan kepada Inorga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian besar dana tersebut akhirnya digunakan untuk menyukseskan pelaksanaan Road to FORNAS. Akibatnya, sejumlah agenda lain tidak lagi memiliki dukungan anggaran yang memadai.
Melihat kondisi tersebut, KORMI Sulteng kemudian mengajukan tambahan anggaran kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) pada Februari 2026.
Selanjutnya, pada 21 April 2026, KORMI Nasional meminta laporan kesiapan Sulteng sebagai tuan rumah FORNAS. Menindaklanjuti permintaan itu, KORMI Sulteng bersama Dinas Pemuda dan Olahraga menghitung kebutuhan riil penyelenggaraan dan mengusulkan anggaran sebesar Rp40 miliar kepada Pemerintah Provinsi Sulteng.
Ketua KORMI Sulteng menegaskan, usulan tersebut bukan untuk pembangunan infrastruktur baru, melainkan murni kebutuhan operasional pelaksanaan FORNAS.
Anggaran itu, kata dia, mencakup biaya persiapan, seremoni pembukaan dan penutupan, penataan venue pertandingan, transportasi, akomodasi panitia, konsumsi, tenaga kerja, relawan, hingga berbagai kebutuhan teknis selama pelaksanaan FORNAS.
“Kami menghitung seluruh kebutuhan bersama Dispora. Anggaran Rp40 miliar itu merupakan kebutuhan operasional agar FORNAS bisa terselenggara dengan baik, bukan untuk membangun fasilitas baru,” jelasnya.
Selain mengusulkan tambahan anggaran, KORMI Sulteng juga menyampaikan hasil kajian mengenai dampak ekonomi yang berpotensi dihasilkan apabila FORNAS tetap digelar di Sulteng.
Berdasarkan kajian tersebut, penyelenggaraan FORNAS diperkirakan mampu menciptakan multiplier effect sekitar Rp200 miliar bagi perekonomian daerah, khususnya di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala, melalui sektor perhotelan, transportasi, kuliner, UMKM, hingga jasa lainnya.
Namun hingga laporan kesiapan disampaikan kepada KORMI Nasional, usulan anggaran Rp40 miliar tersebut, menurut Ketua KORMI Sulteng, belum memperoleh jawaban resmi dari Pemerintah Provinsi Sulteng.
Ia menegaskan, kondisi keterbatasan anggaran itu kemudian turut dilaporkan kepada KORMI Nasional sebagai bagian dari perkembangan persiapan penyelenggaraan FORNAS, bukan sebagai bentuk permintaan agar Sulteng mengundurkan diri sebagai tuan rumah.
“Kami menyampaikan kondisi yang sebenarnya sebagai bentuk tanggung jawab organisasi. Tidak pernah ada permintaan mundur. Kami hanya melaporkan fakta mengenai kesiapan, termasuk persoalan anggaran,” tegasnya.*


