Nigeria, negara Afrika Barat yang menjadi tempat asal-usul tanaman kelapa sawit, harus menghadapi kenyataan pahit. Wilayah yang dulunya mendominasi pasar minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) global tersebut kini justru kehilangan taji dan berubah menjadi importir demi menutupi kebutuhan di dalam negerinya.

Mengutip data dari BusinessDay Nigeria, negara tersebut dahulu pernah menguasai hingga 43% pangsa pasar minyak sawit dunia. Namun, kontribusi Nigeria kini merosot tajam hingga tersisa sekitar 2% saja.

Kebutuhan Domestik Melonjak, Produksi Lokal Tertinggal

Penurunan porsi pasar ini dipicu oleh laju produksi lokal yang gagal mengejar pesatnya lonjakan konsumsi dalam negeri. Pertumbuhan penduduk yang cepat serta ekspansi industri pangan menjadi faktor utama melonjaknya permintaan tersebut.

Presiden Oil Palm Growers Association of Nigeria (OPGAN), Joe Onyiuke, mengungkapkan bahwa jurang pemisah antara kapasitas produksi nasional dan permintaan pasar dalam negeri makin menganga. Kondisi ini menuntut Nigeria bergantung pada pasokan minyak sawit dari negara lain.

Berdasarkan data kebutuhan nasional:

  • Kebutuhan tahunan: Sekitar 2,7 juta ton per tahun.
  • Kapasitas produksi lokal: Baru mencapai kisaran 1,5 juta ton.
  • Defisit pasokan: Lebih dari 1 juta ton dipenuhi melalui impor dari Malaysia, Indonesia, dan negara produsen lainnya.

Laporan UN Comtrade mencatat bahwa Nigeria harus merogoh kocek hingga US$155 juta pada tahun 2024 hanya untuk mengimpor minyak sawit. Ketergantungan ini berimbas pada tertekannya cadangan devisa sekaligus melambungkan biaya pangan di negara tersebut.

Penyebab Utama Rendahnya Produktivitas

Pelaku industri menilai masalah utama Nigeria bukan sekadar ketersediaan lahan. Joe Onyiuke menyoroti sejumlah kendala fundamental yang membelenggu produktivitas sektor ini, antara lain:

  • Minimnya inovasi dan pemanfaatan teknologi.
  • Keterbatasan akses pembiayaan.
  • Kebijakan pemerintah yang tidak konsisten.
  • Belum adanya program peremajaan (replanting) tanaman secara nasional.

Bahkan, sekitar 80% produksi sawit Nigeria masih bersumber dari petani skala kecil yang mengelola tanaman semi-liar dengan metode panen dan pengolahan tradisional.

Malaysia Jadi Acuan dan Mitra Strategis

Di saat Nigeria bergelut dengan krisis produksi, Malaysia justru berhasil menancapkan kuku sebagai salah satu raksasa industri sawit dunia.

Data Malaysian Palm Oil Council (MPOC) menunjukkan bahwa pada tahun 2025, Malaysia memproduksi sekitar 20,28 juta ton minyak sawit dan mengekspornya ke lebih dari 150 negara.

Keberhasilan industri sawit Malaysia memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasionalnya:

  • Menyumbang US$27,5 miliar devisa ekspor pada tahun 2025 (sekitar 3% dari PDB Malaysia).
  • Menopang sekitar 3 juta lapangan kerja di sektor perkebunan, pengolahan, logistik, hingga produk turunan.

Pencapaian tersebut merupakan buah dari investasi jangka panjang pemerintah Malaysia melalui pengembangan varietas unggul, program peremajaan kebun, perluasan pabrik terpadu, pemberdayaan petani kecil, hingga hilirisasi produk seperti oleokimia dan bioenergi.

Kerja Sama dan Transfer Teknologi

Kini, Malaysia membawa pengalamannya untuk membantu Nigeria bangkit. Dalam forum Malaysia Market Connect di Lagos, Chief Executive Officer MPOC Belvinder Sron menyatakan kesiapan Malaysia untuk mendukung Nigeria melalui:

  • Penyediaan bibit unggul.
  • Kerja sama riset dan penelitian.
  • Transfer teknologi pengolahan.
  • Peluang investasi di sektor perkebunan.

MPOC bahkan telah membuka kantor perwakilan di Lagos untuk memperkuat kemitraan dengan para pelaku industri setempat.

Dalam satu tahun terakhir, Malaysia tercatat telah mengekspor sekitar 300 ribu ton minyak sawit dan produk turunannya ke Nigeria. Kerja sama ini menjadi angin segar bagi Nigeria untuk mempercepat peningkatan produksi nasional, sekaligus membuka pintu bagi Malaysia untuk memperluas pengaruh dan rantai pasok industri sawitnya di benua Afrika.*