PALU, CS – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, menegaskan penolakannya terhadap praktik Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Sulteng.

Hal itu disampaikan, sebagai respons atas deklarasi penolakan LGBT yang digelar ratusan warga di Lapangan Vatulemo beberapa hari sebelumnya.

Meski demikian, Anwar Hafid, enekankan bahwa pendekatan yang dilakukan pemerintah harus mengedepankan pembinaan terhadap perilaku, bukan diskriminasi terhadap individu.

Pernyataan tersebut disampaikan Anwar Hafid usai menghadiri Pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII) Sulteng, di Kota Palu, Selasa (30/6/2026).

Menurut Anwar, praktik yang dinilai bertentangan dengan norma dan nilai yang berlaku di daerah tidak dapat dibiarkan berkembang. Namun, upaya penanganannya harus tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

“Saya mendukung sekali. Praktik-praktik seperti itu tidak bisa kita biarkan di daerah ini. Tetapi yang harus kita berantas adalah perilakunya, bukan manusianya. Jangan sampai orangnya kita jauhi. Yang perlu dilakukan adalah meluruskan,” ujar Anwar Hafid.

Ia menegaskan bahwa setiap orang tetap harus diperlakukan sebagai sesama manusia tanpa stigma ataupun perlakuan diskriminatif. Menurutnya, pembinaan menjadi pendekatan yang lebih tepat dibandingkan mengucilkan individu.

Sebagai langkah lanjutan, Pemprov Sulteng akan memperkuat sosialisasi dengan melibatkan berbagai pihak guna memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai nilai-nilai yang berlaku. Selain itu, pemerintah juga akan menyiapkan regulasi sebagai dasar pelaksanaan pembinaan.

“Langkah pertama tentu memperbanyak sosialisasi yang harus dilakukan oleh semua pihak. Kita juga perlu memiliki regulasi sebagai dasar pembinaan,” katanya.

Sebelumnya, ratusan warga yang didominasi kalangan generasi muda menggelar deklarasi penolakan terhadap LGBT di Lapangan Vatulemo, Kota Palu. Aksi tersebut diisi dengan pembacaan pernyataan sikap dan ajakan kepada masyarakat untuk menjaga nilai-nilai yang diyakini bersama.

Inisiator deklarasi, Muammar Khadafi, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai respons terhadap isu yang menurutnya semakin berkembang terkait keberadaan LGBT di Kota Palu. Ia berharap deklarasi tersebut dapat meningkatkan kepedulian berbagai elemen masyarakat terhadap persoalan tersebut.

Dalam kegiatan itu, Jumardan, yang sebelumnya dikenal dengan nama “Minten”, turut menyampaikan pengalaman hidupnya. Ia mengaku telah kembali menggunakan identitas yang diberikan sejak lahir dan mengajak masyarakat untuk mengenalnya dengan nama tersebut. (MAL)