JAKARTA, CS – Perkembangan terbaru terkait ketegangan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya mulai memicu kekhawatiran terhadap pasar energi global.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dilaporkan berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia dan mendorong kenaikan harga energi secara signifikan.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi internasional karena menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dan produk energi dari kawasan Teluk Persia menuju berbagai negara di dunia.
Gangguan terhadap jalur tersebut dapat mengurangi pasokan efektif ke pasar global dan meningkatkan premi risiko akibat ketidakpastian geopolitik.
Sejumlah analis memperkirakan sekitar 15 hingga 20 persen pengiriman minyak melalui jalur laut dunia melewati Selat Hormuz. Jika aktivitas pelayaran terganggu dalam waktu lama, pasar energi berpotensi kehilangan pasokan jutaan barel minyak per hari, sehingga harga minyak mentah dunia dapat mengalami lonjakan tajam.
Pasar minyak biasanya merespons cepat setiap ancaman terhadap keamanan Selat Hormuz. Dalam sejumlah kejadian sebelumnya, harga minyak jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) langsung mengalami kenaikan ketika risiko gangguan pasokan meningkat.
Dalam skenario ketegangan berkepanjangan, harga minyak Brent diproyeksikan dapat bergerak menuju kisaran 80 hingga 100 dolar AS per barel. Bahkan, dalam kondisi ekstrem apabila gangguan pasokan berlangsung lama, sejumlah analisis memperkirakan harga minyak berpotensi menembus level 120 dolar AS per barel.
Dampak kenaikan harga minyak tidak hanya dirasakan oleh pasar global, tetapi juga dapat menekan perekonomian negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan biaya impor energi, mendorong harga bahan bakar minyak (BBM), LPG, serta memberikan tekanan terhadap inflasi domestik.
Kondisi tersebut juga dapat berdampak terhadap anggaran negara karena pemerintah berpotensi menghadapi peningkatan beban subsidi energi apabila harga minyak dunia bertahan pada level tinggi.
Tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi salah satu perhatian apabila harga minyak bergerak mendekati atau melewati 100 dolar AS per barel.
Ekonom menilai pemerintah perlu mencermati perkembangan konflik Iran-AS, terutama apabila ketegangan berdampak terhadap kelancaran perdagangan energi melalui Selat Hormuz.
Selain faktor harga minyak, gangguan jalur tersebut juga dapat meningkatkan biaya logistik global dan memperbesar volatilitas pasar.
Hingga berita ini diturunkan, pasar internasional masih menunggu perkembangan situasi keamanan di kawasan Teluk Persia serta hasil perundingan diplomatik yang berlangsung. Perkembangan konflik Iran-AS akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga energi dan stabilitas ekonomi global dalam waktu mendatang. *


