BANGGAI,CS-Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banggai berencana menjadikan kawasan RTH Teluk Lalong sebagai tempat percontohan budidaya Magot sebagai solusi penanganan sampah organik sehingga bernilai ekonomis.
Budidaya maggot atau Black Soldier Fly (BSF) dianggap pilihan tepat dan sangat efektif untuk dijadikan sarana edukasi lingkungan, karena prosesnya mudah dipraktikkan dan langsung menunjukkan solusi terhadap penanganan sampah organik.
Terkait rencana tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banggai, Andi Rustam Dj H Pettasiri, menyebutkan jika pihaknya sudah mulai mematangkan segala persiapannya, salah satunya dengan menggelar rapat bersama yang melibatkan perwakilan BRIDA Banggai dan DS-LNG.
“Kami sudah melakukan rapat bersama pihak DS LNG, karena mereka yang akan menjalin kerja sama untuk program ini,” ungkapnya, Kamis (1/10/2026).
Andi Rustam kembali menjelaskan bahwa saat ini Dinas Lingkungan Hidup dibawah kendalinya harus memiliki progres yang jelas untuk menekan peningkatan sampah atau limbah, baik yang dihasilkan melalui industri besar maupun industri rumahan.
Khusus untuk budidaya Magot, ia menjelaskan bahwa pemilihan lokasi, RTH Teluk Lalong merupakan kawasan wisata kuliner yang ramai dikunjungi warga setiap harinya, dan sampah yang dihasilkan adalah sisa-sisa makanan, termasuk kemasan plastik sekali pakai.
“Rencananya di dalam RTH Teluk Lalong. Sudah ada lokasi atau tempat yang kami anggap layak,” ujarnya.
Penetapan RTH Teluk Lalong kata Andi, adalah salah satu terobosan didalam menekankan lonjakan sampah dan memberikan edukasi kepada publik, bagaimana pengelolaan sampah yang baik dan benar.
Alasan memilih budidaya Magot
Magot mampu mengonsumsi dan mengurai sampah rumah tangga, sisa sayuran, atau buah-buahan dengan sangat cepat dan tidak berbau menyengat.
Magot kaya akan protein dan lemak, sehingga sangat bagus dijadikan pakan alternatif untuk ikan, burung, dan unggas serta dapat dijadikan sebagai pupuk organik yang menyuburkan tanaman.
Melalui budidaya Magot adalah langkah efektif untuk mengurai limbah organik rumah tangga dengan cepat sekaligus bernilai ekonomis.
“Nanti kalau sudah siap semuanya, kami akan segera launching,” imbuhnya.
Terhadap dampak dari budidaya Magot, Andi Rustam memastikan bahwa warga maupun pengunjung tidak akan terganggu, karena seluruh proses budidaya nantinya akan kami matangkan terlebih dahulu, termasuk melakukan sosialisasi dan pembinaan ketika program tersebut dilaksanakan.
“Tentunya harus dimatangkan dulu, termasuk kajian dampak dari budidaya itu, jangan sampai merugikan warga dan pengunjung, karena yang di olah itu sampah sisa makanan,” ucapnya.
Tak hanya itu, budidaya Magot juga dinilai dapat memberikan pengetahuan terhadap masyarakat sekitar Kota Luwuk, jika sampah bukan hanya limbah akan tetapi dapat bernilai ketika dikelola dengan baik.
Dalam proses budidaya, nantinya warga atau pengunjung bisa melihat langsung dan mendapatkan edukasi bagaimana cara meminimalisir dan mengelola sampah agar dapat bernilai ekonomis.
Selain itu, budidaya Magot juga bisa menjadi sarana edukasi yang dapat memberikan manfaat bagi warga dan pihak manapun yang ingin mengunjungi langsung lokasi budidaya.
“Ini salah satu cara kami. Jika sampah dapat dikelola dengan baik, maka akan memberikan nilai ekonomi dan kebersihan lingkungan kita tetap terjaga,” imbuhnya.**
Reporter: Amlin


