PALU, CS – Program Palu Mapan (Mandiri, Adaptif, dan Stabilitas Pangan) melalui Program Kelurahan Menanam kembali menunjukkan hasil. Tanaman tomat di kawasan pertanian Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, memasuki masa panen hanya sekitar dua bulan setelah ditanam.

Panen perdana tersebut dipimpin Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin, S.E., M.A.P., Selasa (6/10/2026).

Tomat yang dipanen merupakan bagian dari pengembangan Program Palu Mapan yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, menjaga ketersediaan komoditas strategis, sekaligus mendukung pengendalian inflasi daerah.

Imelda mengatakan, tanaman tomat tersebut mulai ditanam pada Agustus 2026 dan telah memasuki masa panen pada Oktober.

“Sekarang kita berada di lahan Program Palu Mapan di Kawatuna. Ini panen pertama dari yang awal kita tanam. Mulai menanam di bulan Agustus, dua bulan setelahnya kita panen hari ini,” ujar Imelda.

Menurutnya, hasil panen tersebut menunjukkan bahwa tantangan perubahan iklim akibat fenomena El Nino tidak seharusnya menghentikan upaya produksi pangan.

Pemerintah bersama petani, kata Imelda, harus terus beradaptasi dan melakukan berbagai inovasi agar produksi pangan tetap berjalan di tengah kondisi iklim yang berubah.

“El Nino kita tidak boleh menyerah. Karena El Nino itu sesuatu yang pasti terjadi. Kita harus semangat, harus tetap berusaha dan terus berupaya. Alhamdulillah berhasil dengan panen hari ini,” katanya.

Selain produksi, Imelda turut mengapresiasi kualitas tomat yang dihasilkan dari kawasan Kawatuna. Kondisi wilayah yang berada di dataran lebih tinggi dinilai memberikan keuntungan terhadap kualitas dan daya simpan hasil panen.

“Kualitasnya bagus, alhamdulillah. Lebih tahan lama karena berada di daerah yang ketinggiannya lebih tinggi,” ungkapnya.

Program Palu Mapan saat ini telah dikembangkan di sembilan kelurahan. Setiap lokasi memiliki lahan sekitar satu hektare yang dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai komoditas pangan sesuai dengan kondisi dan potensi wilayah.

Khusus di Kawatuna, hasil produksi tomat diarahkan untuk mendukung pasokan ke Pasar Masomba. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperpendek rantai pasok sekaligus menjaga ketersediaan komoditas pangan bagi masyarakat.

Imelda mengatakan, peningkatan produksi pangan lokal juga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga.

Terlebih, November dan Desember menjadi periode yang perlu mendapat perhatian karena meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi.

“Bulan November dan Desember adalah bulan-bulan inflasi. Sehingga kita bisa menekan angka inflasi kita menjadi lebih baik ke depan karena Program Palu Mapan berjalan dengan baik dan selalu kita kawal,” jelasnya.

Pengembangan Program Palu Mapan tidak hanya difokuskan pada komoditas tomat. Pemerintah Kota Palu juga akan melanjutkan pengembangan dan pemanenan berbagai komoditas pangan di sejumlah lokasi.

“Sekarang tomat dulu yang kita selesaikan untuk panennya. Insyaallah menyusul panen komoditas lainnya,” tutur Imelda.

Kegiatan panen tersebut turut dihadiri Pelaksana Harian Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu Moh. Fahri, S.E., M.Si., perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, penyuluh pertanian, camat, lurah, serta sejumlah unsur terkait.

Pemkot Palu berharap Program Kelurahan Menanam dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan produksi pangan lokal, membuka peluang ekonomi bagi petani, menjaga pasokan pasar, dan mendukung pengendalian inflasi.

Melalui pengawalan berkelanjutan, Program Palu Mapan diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan Kota Palu yang mandiri, adaptif, dan berkelanjutan. *