Petani Garam Siap Kolaborasi Pemerintah dan Polri Ciptakan Situasi Kamtibmas

Petani Garam Pantai Talise. (Photo credir : Degina Adenessa/JMK-Oxfam)

PALU, CS – Kelompok koperasi Petani Garam Talise (GARATA) saat ini mengalami beberapa kendala sehingga berdampak terhadap menurunnya produktivitas. Selain lahan yang kurang, faktor cuaca yang tidak menentu, rendahnya teknologi yang digunakan serta kurangnya permodalan. Mereka pun meminta dukungan dari pemerintah daerah dan meningkatkan produktivitasnya.

Ketua Kelompok Tani Garata, Abdul Majid kepada wartawan Senin 10 Mei 2021 mengatakan, rendahnya produksi garam lokal akan berpengaruh pada penghasilan petani, yang tentu berdampak pada perekonomian yang mengakibatkan banyaknya pengangguran, yang kedepannya bisa berpotensi mempengaruhi situasi keamanan.

Bacaan Lainnya
Baca Juga :  NGO Prancis Bantu Huntap di Palu. Tahap Awal 20 Unit

Atas hal tersebut, Abdul Majid menyebut petani garam Talise sangat mengharapkan pemerintah dapat membantu petani, untuk meningkatkan produksinya melalui bantuan peningkatan fasilitas penambak garam, meningkatkan mutu Geomembran, dan drainase saluran air, serta mendorong terbentuknya industri percetakan garam Produksi lokal.

Majid menambahkan, dengan adanya Kelompok Tani Garata, yang didirikan tahun 2019 di Keluruhan Talise, diharapkan dapat menyelesaikan berbagai macam permasalahan yang biasa dihadapi oleh petani.

“Petambak garam yang tergabung dalam Garata,  tercatat dimiliki oleh 163 pemilik lahan dan terbagi sebanyak 16 kelompok, yang mana tiap kelompoknya memiliki anggota kurang lebih 10 orang. Sebagaian masyarakat di Kelurahan Talise menjadikan garam sebagai sumber penghasilan utama, meski sebagian lagi menjadikan sebagai pekerjaan sampingan. Pekerjaan tersebut merupakan warisan turun-temurun dari orang tua mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Baca Juga :  Sekkot Lepas Atlet Popda Kota Palu

Ia menuturkan, pasca bencana tsunami pada tahun 2018 lalu, Lahan garam yang dulunya hancur kini berproduksi kembali. Meja garam seluas 8 x 10 m dapat menghasilkan garam sebanyak 250 kg dengan masa produksi selama 4 hari. Selain perbaikan dan penataan lahan garam dan penggunaan geomembran, Koperasi Garata juga mendapat bantuan 1 unit excavator mini untuk pemeliharaan dan pembentukan lahan garam.

Namun Majid  mengaku bersyukur, dengan adanya teknologi pembuatan garam yang menggunakan terpal  sebagai pelapis tanah ( teknologi geomembran) lebih menjanjikan ketimbang yang tradisional. Yang mana terjadi selisih panen dan kualitas, teknologi membran membutuhkan tiga hari panen, sementara yang tradisional lima hari baru dapat panen.

Diakui, sebelum memasang geomembran, kelompoknya bisa menghasilkan garam sekitar 200 kilo dengan jangka waktu panen per 4 hari dari luas lahan tambak sekitar 10×8 meter.  Sesudah memasang geomembran bisa menghasilkan 400 kilo hingga 600 kilo, dengan jangka waktu dan luas lahan tambak yang sama dengan sebelumnya.

Baca Juga :  Pemkot Palu Turunkan 166.322 Personel Gabungan untuk Pengamanan Nataru

“Perbandingannya lebih dua kali lipat. Secara kualitas, para petambak meyakini hasil produksi garam menggunakan metode geomembran jauh lebih baik dibanding menggunakan cara konvensional. Secara kualitas, hasil garam lebih bagus dibanding menggunakan cara tradisional, dulu kami tidak pakai pengalas untuk kristal garam, sekarang kita memberikan alas jadi hasil panen tidak bercampur ke tanah. Hasil garam kami saat ini jauh lebih putih, proses kristalisasi garam lebih cepat,” jelas Majid.

Dipenghujung, Majid menambahkan, petani garam yang tergabung dalam Kelompok Garata juga siap berkolaborasi dengan Pemerintah dan polri untuk menciptakan situasi Kamtibmas yang kondusif, guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Sulteng. **

Pos terkait