JAKARTA, CS – Blok Bahodopi milik PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) mencatatkan peningkatan kinerja operasional sepanjang triwulan II 2026. Penjualan bijih nikel saprolit dari wilayah tersebut mencapai 1,07 juta wet metric ton (wmt), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 886 ribu wmt.

Berdasarkan laporan kinerja Perseroan, volume penjualan bijih nikel Blok Bahodopi pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 1.074.665 wmt.

Dengan tambahan kinerja pada triwulan I sebesar 886.094 wmt, total penjualan bijih nikel Bahodopi sepanjang semester pertama 2026 mencapai 1.960.758 wmt.

Peningkatan kinerja tersebut menunjukkan penguatan kapasitas operasi pertambangan PT Vale di Bahodopi sebagai bagian dari strategi pengembangan tiga pusat operasi utama Perseroan, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.

PT Vale menyebut pertumbuhan volume penjualan bijih nikel di Bahodopi menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat diversifikasi sumber pendapatan perusahaan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Selain Blok Bahodopi, Perseroan juga mencatat pertumbuhan signifikan dari Blok Pomalaa. Penjualan bijih nikel saprolit Pomalaa pada triwulan II 2026 mencapai 1,26 juta wmt, meningkat tajam dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 88.983 wmt. Secara kumulatif, penjualan Pomalaa pada semester pertama 2026 mencapai 1,35 juta wmt.

Kinerja positif dari kedua blok pengembangan tersebut berjalan seiring dengan peningkatan produksi nikel dalam matte PT Vale pada periode yang sama. Perseroan mencatat produksi nikel dalam matte sebesar 16.153 metrik ton pada triwulan II 2026 atau meningkat 19 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Peningkatan aktivitas operasi di Bahodopi dan Pomalaa menjadi bagian dari langkah PT Vale memperkuat posisi perusahaan dalam rantai pasok nikel nasional, termasuk mendukung agenda hilirisasi mineral dan pengembangan industri baterai kendaraan listrik.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, mengatakan Perseroan terus mempercepat pengembangan proyek hilirisasi sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang.

“Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia serta memperkuat komitmen PT Vale untuk mendukung agenda hilirisasi nasional,” ujar Bernardus saat menanggapi kedatangan autoclave untuk Proyek HPAL Sambalagi, Indonesia Growth Project (IGP) Morowali.

Menurutnya, proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) tersebut akan mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Perseroan menegaskan akan terus meningkatkan kapasitas operasi dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan kerja, efisiensi, serta keberlanjutan lingkungan dalam setiap kegiatan pertambangan. *