JAKARTA, CS – Aksi unjuk rasa yang digelar ratusan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, berujung ketegangan pada Senin (18/8/2026) sore. Langkah massa yang hendak menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI) terhenti setelah diadang barikade ketat aparat kepolisian di depan gedung Plaza UOB.
Upaya negosiasi antara perwakilan mahasiswa dan petugas di lapangan berjalan sengit sekitar pukul 16.19 WIB. Karena tak kunjung menemukan kesepakatan untuk membuka jalur, aksi saling dorong antara peserta demonstrasi dan personel pengamanan tidak terelakkan di sekitar jalur busway.
Koordinator Lapangan Aksi Merebut Kemerdekaan, Hafidz Haernanda, menegaskan bahwa rombongannya memilih untuk tetap bertahan di lokasi tersebut demi menyampaikan aspirasi mereka. Meski situasi memanas, ia memastikan massa bertindak terukur untuk menghindari bentrokan fisik yang parah.
“Kami akan terus bertahan. Kami pusatkan di sini,” ujar Hafidz di tengah riuhnya orasi. Ia juga menambahkan terkait risiko di lapangan, “Apapun risikonya. Ya kalau semisalnya sampai ada tumpah darah pasti enggak.” tegasnya.
Rombongan yang diperkirakan berjumlah 500 hingga 700 orang ini sebelumnya berangkat dari kampus UI Depok menggunakan puluhan angkutan umum dengan pengawalan ketat. Dalam aksi ini, mereka membawa setidaknya delapan poin tuntutan utama yang ditujukan kepada pemerintah pusat.
Di antara tuntutan tersebut, mahasiswa mendesak penanganan segera terhadap lonjakan harga bahan pokok dan BBM, penolakan atas pemusatan kekuasaan, penghentian intervensi militer di ruang sipil, hingga evaluasi menyeluruh terhadap ASN dan revisi UU TNI-Polri.
Selain isu nasional, massa aksi juga menyoroti kondisi darurat kemanusiaan di wilayah timur Indonesia. Hafidz menyayangkan pidato kenegaraan momen kemerdekaan yang dinilai melewatkan kondisi kritis warga di Nusa Tenggara Timur dan Flores yang terdampak bencana gempa bumi.
Oleh karena itu, BEM UI mendesak pemerintah agar segera menetapkan status Bencana Nasional untuk kawasan NTT dan Flores agar penanganan bantuan dapat berjalan lebih cepat dan optimal.*


