PALU, CS – Universitas Tadulako (Untad) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menggelar kegiatan capacity building terkait pelokalan Sustainable Development Goals (SDGs) bagi SDGs Center dan pemerintah daerah, Rabu (13/5), di Ruang Conference Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untad.
Kegiatan bertema “Fasilitasi/Bimbingan Teknis Pelokalan SDGs bagi SDGs Center dan Pemerintah Daerah” itu dilaksanaka, di Ruang Conference Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untad, Rabu (13/5/2026).
Ketua SDGs Center Untad, Husnah, mengatakan penguatan kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting dalam mempercepat pencapaian target pembangunan berkelanjutan di daerah.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari agenda capacity building sebelumnya yang difokuskan pada pemerintah daerah dalam penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) SDGs.
“RAD ini menjadi kewajiban pemerintah provinsi sesuai amanat Permendagri Nomor 7 Tahun 2018 dan Permendagri Nomor 111 Tahun 2024. Setiap daerah wajib melakukan sinkronisasi program mulai dari RPJMD hingga RPJMN nasional,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab dalam mendukung pencapaian target SDGs sebagaimana tercantum dalam indikator kinerja utama perguruan tinggi.
Untuk Untad sendiri, fokus pengembangan diarahkan pada tujuan tanpa kemiskinan, pendidikan berkualitas, kemitraan, tanpa kelaparan, serta penanganan perubahan iklim.
Prof Husnah menambahkan, SDGs Center Untad yang berdiri sejak September 2023 di bawah naungan LPPM diharapkan menjadi pusat kolaborasi dan transfer pengetahuan terkait SDGs di Sulawesi Tengah.
“Tujuan kegiatan hari ini adalah memperkuat pencapaian SDGs. Motto SDGs sendiri adalah No One Left Behind, sehingga semua pihak wajib terlibat dalam pencapaian target SDGs 2030,” katanya.
Selain capacity building, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari persiapan Untad mengikuti kompetisi SDGs Action Awards tingkat nasional yang digelar Bappenas.
Kepala LPPM Untad, Lukman, menegaskan perguruan tinggi harus menjadi motor penggerak perubahan sosial dan pembangunan berkelanjutan di daerah.
“Kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai forum peningkatan kapasitas teknis menuju kompetisi SDGs Action Awards, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan bersama untuk membangun budaya inovasi, kolaborasi, dan keberpihakan kepada masyarakat melalui implementasi SDGs,” ujarnya.
Ia menilai dokumen Rencana Aksi Daerah SDGs tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif semata, tetapi harus diwujudkan dalam program nyata yang dirasakan masyarakat.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendampingan menuju kompetisi SDGs Action Awards (SAA) dan SDGs Annual Conference (SAC), yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas.
Kegiatan tersebut turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga filantropi, NGO, hingga sektor swasta seperti Citra Palu Minerals dan Bank Indonesia.
Selain jajaran pimpinan Untad, kegiatan juga dihadiri sejumlah pimpinan perguruan tinggi di Kota Palu, organisasi masyarakat sipil, serta mahasiswa sebagai bagian dari penguatan partisipasi generasi muda dalam mendukung pencapaian SDGs 2030. *

