GAZA, CS – Seorang balita Palestina berusia 18 bulan dilaporkan menjadi korban dugaan penyiksaan oleh tentara Israel di wilayah Gaza tengah, memicu seruan investigasi dari keluarga korban dan perhatian organisasi hak asasi manusia.
Insiden tersebut dilaporkan terjadi pada Sabtu di sekitar kamp pengungsi Al-Maghazi. Sejumlah media Palestina, termasuk Palestine TV, menyebut balita itu mengalami luka bakar dan luka tusukan saat berada dalam penahanan militer Israel.
Jurnalis Palestina, Osama al-Kahlout, yang mengutip keterangan keluarga korban, melaporkan bahwa anak tersebut mengalami luka bakar akibat rokok di kaki serta luka tusukan yang diduga berasal dari paku. Laporan medis yang dikutip media regional juga menguatkan adanya luka pada tubuh korban.
Menurut kesaksian saksi mata, ayah korban, Osama Abu Nassar, saat itu tengah bersama anaknya untuk membeli kebutuhan sehari-hari ketika terjadi penembakan di sekitar lokasi. Dalam situasi tersebut, ayah korban disebut dipaksa mendekati pos militer untuk diperiksa, sementara anaknya ditahan.
Sejumlah laporan menyebutkan balita tersebut diduga disiksa selama beberapa jam sebagai bentuk tekanan terhadap ayahnya dalam proses interogasi. Namun, hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai tuduhan apa yang diarahkan kepada ayah korban.
Balita tersebut kemudian dibebaskan dan diserahkan kepada keluarganya melalui Komite Palang Merah Internasional setelah sekitar 10 jam. Sementara itu, ayahnya dilaporkan masih dalam penahanan.
Pihak keluarga meminta keterlibatan lembaga internasional untuk menyelidiki insiden tersebut serta mendesak pembebasan ayah korban.
Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya sorotan internasional terhadap dugaan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah konflik Gaza. Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese, sebelumnya melaporkan adanya dugaan praktik penyiksaan terhadap warga Palestina dalam laporannya di Dewan Hak Asasi Manusia PBB.
Dalam laporan tersebut, disebutkan ribuan warga Palestina, termasuk anak-anak, telah ditahan sejak Oktober 2023, dengan sejumlah kasus kematian dalam tahanan. Pernyataan itu menambah tekanan internasional untuk dilakukan penyelidikan independen terhadap dugaan pelanggaran yang terjadi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak militer Israel terkait laporan dugaan penyiksaan tersebut. *

