Mega Project Wallace Line, Mimpi Besar Rusdy Mastura

Gubernur Sulteng Periode 2021-2024, Rusdy Mastura. (FOTO : UST)

Walea di Kepulauan Togean, katanya diambil dari Nama Wallacea, seorang orientalis Inggris yang berkontribusi besar dalam lahirnya teori seleksi alam Charles Darwin. Pemuda yang hobi mengembara alam dan kebudayaan itu, melakukan korepondensi hasil penelitiannya pada Darwin lebih dari seabad silam.

Laporan-laporan itu berisi spot keanekaragaman hayati, diantara Teluk Tomini, kepulauan Walea, hingga Coral Triangle. Belakangan dikenal dengan istilah “Ternate Paper,” dan garis Wallacea sebagai temuan terbesarnya.

Bacaan Lainnya

Terinspirasi dari kerja besar ini. Rusdy Mastura menjadikannya sebagai “Code Global” dalam sebuah visi hari depan tentang kemajuan Sulawesi Tengah.

Rusdy Mastura mengambil nama Wallacea line untuk menggambarkan jalur pelayaran tradisional yang menghubungkan antar provinsi dan negara di semenanjung Utara Asia Tenggara mulai dari Kepulauan Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Malaysia Timur, dan Philipina. Jalur ini akan menjadikan teluk Tomini dan Selat Makassar sebagai pusat lalulintas loading barang dan jasa.

Mega proyek Wallacea Line adalah ambisi lama yang tidak berkembang akibat peluang ekonomi politik yang belum memungkinkan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Sulawesi Tengah belum bisa mewujudkan gagasan ini karena keterbatasan inovasi dan kerjasama.

Diharapkan mega proyek Wallacea Line akan terwujud dengan dampak yang jelas bagi terbukanya akses pasar dan pengembangan kapasitas manusia, dan komoditas unggulan di wilayah timur Indonesia. Wallacea Line adalah konsep dan juga mega proyek yang akan membentuk Poros Ekonomi Maritim Timur Indonesia.

Hal ini akan menjadikan Sulawesi Tengah sebagai episentrum perdagangan dan jasa Indonesia Timur. Tujuan utama proyek ini adalah pembentukan modal daerah dalam rangka menuju APBD Sulteng 10 trilun tahun 2024.

Proyek ini akan menuntaskan hambatan perpindahan barang dan jasa kawan Timur ke Barat dan sebaliknya. Wallacea Line bukan saja mengaktifkan dasar-dasar ekonomi regional dalam perspektif pelayanan tradisional. Tetapi juga akan mengaktifkan ekonomi bandar lama dalam persepektif tata niaga abad 14-16, diantaranya Pelabuhan Donggala, Pelabuhan Poso, Pelabuhan Pagimana, dan Pelabuhan Kolonedale.

Implikasi yang pasti bagi Sulawesi Tengah adalah terbukanya peluang untuk meningkatkan kapasitas fiskal daerah.

Keunggulan Lokasi

Letak geografis Provinsi Sulawesi Tengah berada diantara Lintang Utara dan Lintang Selatan, serta Bujur timur dengan ibukota Provinsi Kota Palu. Selain itu, Sulawesi Tengah adalah satu-satunya provinsi di Kepulauan Sulawesi yang memiliki 3 perairan sekaligus. Hal ini tidak dimiliki oleh provinsi-provinsi lainnya di Kepulauan Sulawesi.

Apa saja perairan-peraian itu? Ada Teluk Tomini; ada Teluk Tolo; Ada Selat Makassar/Laut Sulawesi.

Jika dipandang dari keberadaan 3 wilayah perairan tersebut. Maka seharusnya Provinsi Sulawesi Tengah menjadi produsen sumber daya hasil perikanan terbesar Indonesia Timur, sebagai aset pendapatan daerah.

Selain itu, posisi geo strategis kita juga ditunjang dengan luas wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tengah yakni, perairan 77.295,90 km2 dengan Panjang garis pantai 6.653 km.

Tidak hanya itu, kita juga memiliki 1.604 pulau dengan luas ekosistem terumbu karang 187.766,71 Ha, luas ekosistem lamun 27.406,48 Ha dan luas ekosistem mangrove 33.876,29 Ha. Itu baru pulau dan perairan, kita juga memiliki luas daratan yang luar biasa, yakni 61.841,29 km². Hanya dihuni penduduk 2.831.283 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk 46 jiwa/km2. Bahkan kalau tidak keliru, Sulawesi Tengah masih menempati peringkat ke-10 untuk luas wilayah di Indonesia setelah Kalimantan Utara dan Aceh.

Seharusnya, Sulawesi Tengah adalah pusat dari nafas ekonomi pulau Sulawesi; Semestinya kita adalah denyut nadinya produksi dan konsumsi pulau Sulawesi dan timur Indonesia.

Baca Juga :  Satu Putra Sulawesi Sukses Meraih Gelar Sarjana di Universitas Al-Ahgaf

Mengapa demikian, karena daerah kita ini berbatasan langsung dengan Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo, sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Maluku, sementara Sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara, Sebelah Barat berbatasan langsung dengan Selat Makasar.

Namun sayang, dari segi konektivitas jalur darat. Hingga jelang tahun 2020 ini, panjang jalan di Provinsi Sulawesi Tengah baru sekitar 16 ribuan KM, belum terhitung yang rusak parah dan rusak ringan.

Barangkali saja, hanya sebagian kecil dari kita- yang menyadari hal ini, sebagai apa yang dimaksud dengan keuntungan letak atau lokasi. Hal ini sebagai anugerah besar Allah SWT, yang membuat Sulawesi Tengah unggul secara alamiah dibanding provinsi lain.

Sebuah kondisi yang diharapkan oleh negara manapun di dunia ini. Orang membuat terusan, jalan tol, jembatan panjang, membelah gunung, membangun jembatan untuk mengejar apa yang dimaksud dengan lokasi ini:

Tiongkok membuat program bernama Belt Road Initiatif (BRI) yang menghubungkan jalur sutera; Jepang membuat program CEPEA; INDIA membuat apa yang disebut dengan Delhi Special Economic Zone; Amerika membuat Kawasan Ekonomi Boston, Korea Selatan membuat GangNam Zone. Untuk apa semua itu? Untuk mengejar apa yang dimaksud dengan lokasi.

Sekarang bisa dibayangkan betapa Sulawesi Tengah ini sungguh begitu kaya. Itu baru satu hal, keunggulan dari segi letak geografis. Karena keunggulan letak geografis itulah, kita memiliki keunggulan konektivitas dari segi jalur pelayaran. Sekarang kita memiliki tiga Zona pelabuhan.​

Zona pertama, kita memiliki Pelabuhan Palu di ibukota Provinsi dan Donggala dengan status regional atau kelas IV yang di kelola Pelindo, yaitu Pelabuhan Donggala dan Pelabuhan Pantolan.

Selain itu, terdapat pelabuhan yang tidak diusahakan, yaitu Pelabuhan Wani, Labean dan Ogoamas. Pelabuhan lainnya milik Pertamina adalah Depo Loli, sedangkan Pelabuhan Perikanan adalah TPI Labean yang dilengkapi dengan fasilitas cold storage. Pelabuhan lainnya adalah Pelabuhan Tolitoli dan Pelabuhan Leok di Kabupaten Buol.

Sementara Zona kedua, kita memiliki pelabuhan regional kelas IV yang dikelola PT. Pelindo, yaitu Pelabuhan Poso dan Ampana. Pelabuhan di Kabupaten Banggai adalah Tangkian dan Luwuk sebagai pelabuhan nasional, dan Pelabuhan Bunta sebagai pelabuhan regional. Ada juga Pelabuhan Bualemo di Kabupaten Banggai sebagai pelabuhan lokal diarahkan sebagai pelabuhan perikanan.

Pelabuhan lainnya berstatus sebagai pelabuhan perikanan atau TPI/ PPI Desa Kadoli, Desa Tintingan Minangandala, Bonebobakal, Balantak di Banggai, dan Pelabuhan Togian di Tojo Unauna. Pelabuhan lokal lainnya adalah Pelabuhan Ampana, Unauna, Dolong dan Popoli. Pelabuhan milik Pertamina berada di Toini dan Moengko, Kabupaten Poso. Sedangkan transportasi perairan danau ada di Danau Poso, yaitu dua dermaga kayu menghubungkan Kota Tentena Kec. Pamona Utara dan Kota Pendolo Kec. Pamona Selatan.

Sedangkan pada Zona ketiga, kita memiliki beberapa pelabuhan di Morowali dan Banggai. Antara lain, Pelabuhan Kolonodale, termasuk PPI yang memerlukan pengembangan, yakni Pelabuhan Kolo Bawa, Pelabuhan Baturube, Pelabuhan Bungku, Pelabuhan Wosu, calon PPI di Desa Moahino, Pelabuhan Kaleroang, Pelabuhan Sambalagi, Pelabuan Bahodopi, Pelabuhan Tambayoli, Pelabuhan Ulunambo, Menui Kepulauan. Beberapa dari pelabuhan itu, dapat ikembangkan menjadi pelabuhan akumulasi perikanan.

Dari segala potensi dan keunggulan yang kita punya itu. Sulteng mewakili tiga matra keunggulan yang dipadu dengan kekayaan mineral, minyak dan gas bumi. Sungguh sebuah kekayaan alam yang harusnya bisa memberikan kesejahteraan pada rakyat yang jumlahnya, hanya 2,876,689 jiwa tersebut.

Keunggulan Sumber Daya Alam

Apalagi yang tidak dipunyai daerah lain dan hanya ada di Sulteng? Tentu saja adalah sumber daya alam?

Mengapa sumber daya alam itu disebut keunggulan karena tidak semua tempat, ia berada. Katakanlah, kita juga punya semua jenis mineral komoditas dunia, mineral nickel, biji besi, emas, krom, dan molibdenum.

Baca Juga :  Matahari Terbit Dari Timur

Namun apa yang paling penting kita sadari saat ini? Bahwa transformasi dunia terhadap energi dasar transportasi: dari penggunaan minyak fosil ke energi lithium, atau yang kita kenal dengan mobil listrik.

Semua pelaku usaha dunia sekarang, menyepakati bahwa dalam rangka mengantisipasi kelangkaan bahar bakar fosil, maka transportasi dunia akan bergeser ke penggunaan listrik dengan komponen dasar saving energy, batteray lithium.

Dalam konteks ini, kembali Sulteng memiliki keunggulan. Setelah pabrik Tesla Perancis, Bahodopi, menjadi tempat kedua pabrikasi komponen batteray dunia yang dibangun oleh investasi shanghai group. Tidak hanya itu, kita juga penentu dalam energi listrik terbersih dunia sekarang. Kita punya gas bumi DSLNG, dan PLTA Sulewana PT Poso Energy, dan sejumlah potensi energi terbarukan, banyu, matahari dan arus laut.

Tantangan dan Peluang

Setelah menjabarkan keunggulan-keunggulan Sulawesi Tengah. Tentu ada tantangan dan peluang yang sedang kita hadapi. Tanpa mengatasi itu, segala keunggulan itu, tentu tidak akan berarti apa-apa. Sekarang ini, Sulawesi Tengah sedang menghadapi dua tantangan pokok pembangunan sekaligus peluang:

​Pertama, mempercepat Sulawesi Tengah lepas landas dari krisis pasca bencana. Ratusan ribu rakyat kita masih hidup dengan segala keterbatasan setelah mereka kehilangan harta benda. Memang, pemerintah telah melakukan berbagai upaya melalui program rehab rekon.

​Tetapi berkaitan dengan urusan masyarakat Sulawesi Tengah. Seharusnya ini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah sendiri. Pemerintah harusnya mengambil tanggung jawab memastikan dua hal:

(1) Bagaimana kehadiran pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menjamin pemenuhan hunian atau rumah pada ratusan ribu penyintas bencana; (2) menyediakan bantuan dana stimulan sebagai modal usaha, bekal hidup, dan menciptakan lapangan kerja.​

Mengapa demikian, sebab Pemerintah Sulawesi Tengah tentu pihak yang harusnya tahu apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di wilayahnya. Bukan pemerintah daerah lain, pemerintah pusat, LSM, maupun pengusaha, tapi Pemerintah daerah Sulawesi Tengah. Sekali lagi pemerintah daerah.

Padahal, semestinya sedari awal ditegaskan. Bahwa biarlah Pemerintah pusat yang telah mengagendakan infrastruktur, bekerja menyelesaikan, jalan, jembatan, kantor, sekolah dan rumah sakit. Tetapi pemerintah daerah, harus berdiri mengambil tanggung jawab penuh memastikan hunian dan pekerjaan bagi korban bencana.

Lalu kemudian, apa yang menjadi tantangan kedua, sekaligus peluang. Apalagi kalau bukan pemindahan ibu Kota Republik Indonesia ke Kalimantan, tepatnya di Penajam Paser. Dimana lokasi penajam itu? Lokasinya tepat di depan teluk Palu. Bahkan bila nanti orang membakar petasan diseberang akan kelihatan dari Tanjung Karang Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Mimpi Yang Dibayangkan

Bagaimana memulai lepas landas dan mewujudkan daerah penyangga ibu kota negara.

Pertama, Sulawesi Tengah perlu membangun tiga jalur cepat dari Parigi Moutong ke pantai barat dan pelabuhan kargo timur barat. Kita butuh sekarang bangun sekurang-kurangnya tiga jalan tol, tiga pelabuhan internasional di pesisir barat dan timur yang menjadikan Selat Makassar sebagai pintu depan alur laut dan perairan suplay chain global.

Jika hal itu teratasi, maka tiga jalur perairan tadi akan berubah menjadi jalur “Selle Bessi” dalam bingkai semangat Wallace Line. Sebuah jalur pelayaran tradisional yang kita punya. Inilah yang dimaksud jalur pelayaran di bawah angin.

Masyarakat kita dulu saling berpindah menggunakan perahu layar dalam jalur-jalur itu. Mereka menukar padi ladang dengan sutera, menukar sapi dengan parang, menukar sarung dengan gerabah. Sekarang, kita akan transformasi jalur itu menjadi kargo raksasa yang lebih moderen. Sulteng memasok komoditas rakyat untuk dunia.

Baca Juga :  Danau, Sungai dan Laut Poso Tercemar Mikroplastik

Kedua, Kolaborasi investasi dan rakyat adalah kunci. Pola kemitraan berbasis kawasan dan lokasi harus bisa mengantarkan rakyat menuju gerbang kemakmuran yang didesain melalui pembagian deviden dan partisipasi sumber daya manusia. Dalam pengertian itulah, Sulteng perlu dibangun dengan konsep aglomerasi yang berhaluan partisipasi rakyat.

​Apa lagi kira-kira yang diperlukan untuk menyempurnakan gagasan ini?

​Paradigma pendidikan Sulawesi Tengah harus terarah pada middle skill. Selain karena sumber daya alam kita melimpah. Ibu kota yang sudah di depan mata itu, kelak akan membutuhkan banyak tenaga kerja; akan banyak pekerjaan tercipta di sana. Anak-anak Sulawesi Tengah harus disiapkan skillnya, pengetahuannya, dan kemampuan individunya. Untuk apa? Agar mereka bisa bersaing untuk mengisi semua lapangan pekerjaan itu.

Oleh karena itu, harus mendesak ke depan adalah membangun dan memperbanyak sekolah-sekolah vocasi lengkap dengan alat peraga dan laboratorium. Kapasitas individu tenaga kerja produktif, harus dibekali dengan keterampilan mengolah sumber daya yang tersedia.

Kita harus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, agar anak-anak Sulawesi Tengah mampu mengolah barang setengah jadi. Mereka bisa menghasilkan added value, atau nilai tambah, pada setiap komoditas unggulan Sulawesi Tengah.

Pada setiap Kabupaten didirikan sekolah vocasi berdasarkan komoditas unggulan. Maka dalam waktu 5 tahun ke depan, kita bisa mencetak puluhan ribu tenaga kerja terampil. Mereka yang lulusan sekolah vocasi itu bisa mengolah rumput laut sebagai barang setengah jadi, mengolah rotan, perikanan dan lain-lain. Tentu tugas Pemerintah daerah berikutnya adalah menyiapkan industri dan pasarnya.

Demikian itulah cara terbaik dan moderen. Sebagai sebuah konsep, gagasan dan narasi dalam upaya mengentaskan pengangguran sekaligus kemiskinan di Sulawesi Tengah. Sekarang, dan hingga tahun 2045, kita akan mengalami bonus demografi. Kondisi dimana usia produktif angkatan kerja, antara 17-38 tahun lebih besar dari angka usia tidak produktif. Bisa dibayangkan bila kita tidak memiliki strategi untuk menanganinya.

Semua itu harus dikelola untuk menguntungkan perekonomian daerah. Tanpa proyeksi pembangunan sumber daya manusia yang unggul, maka mustahil daerah ini dapat berdaya saing. Dulu kita merintis Kawasan Industri Palu sebenarnya ingin bangun industri rumput laut, industri kakao, industri kelapa, industri rotan disitu, sebagai komoditas rakyat.

Tidak mungkin rakyat kita paksa dengan segala keterbatasan memproduksi mobil. Biarlah menjadi tugas Pemerintah pusat yang memfasilitasi lahirnya industri berat seperti yang ada di Kabupaten Morowali yakni kawasan industri baja nikel, dan Kabupaten Banggai industri gas dan amoniak.

Mengapa demikian? Rakyat kita cuma punya kakao, rumput laut, rotan, kopi, dan lain-lain. Jadi kalau kita hendak naikan kesejahteraan rakyat jangan dulu hayalkan bikin mobil. Maka kalau kita bangun industri rumput laut, nelayan kita akan menikmati, jika kita bangun industri kelapa dalam, petani kita tidak lagi bingung. Jadi kita jual komoditi rakyat bukan sekedar bahan baku.

Obsesi besar yang perlu kita tuntaskan adalah meletakan masa depan yang tepat. Substansi dari semua masalah yang kita hadapi sekarang, jawabannya adalah tiga hal:
(1) sekolah vocasi untuk ciptakan middel skill; (2) infrastruktur untuk konektivitas; (3) industri berbasis komoditas rakyat.

Hanya dengan tiga hal itu, maka peta jalur kesejahteraan masa depan masyarakat bisa kita pastikan. Belum terlambat untuk memastikan hal ini.

Kata Rusdy Mastura selalu, “Jika dunia mengenal peradan Yunani yang masyur, peradaban mesir, peradaban Babilonia, peradaban, Persia dan lain-lain. Maka sekarang kita dorong kebangkitan peradaban Melayu dari Sulawesi Tengah”.

Hal itulah, sesungguhnya obsesi seorang Rusdy Mastura: Mewujudkan suatu maha proyek Wallace Line” sebagai pintu gerbang kejayaan dan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah.*

Penulis : Andika

Pos terkait