Wacana mengenai sosok yang akan mengisi kursi Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) mulai menghangat. Di tengah berbagai spekulasi yang berkembang, nama Jossy Kusumo justru mencuat dengan respons yang cenderung positif dari publik.
Menariknya, dukungan itu tidak hanya muncul di ruang formal, tetapi juga menggema luas di media sosial seperti TikTok, Facebook, dan Instagram, ruang di mana opini publik hari ini terbentuk secara organik.
Lebih dari sekadar perbincangan daring, nama Jossy juga menjadi topik hangat di ruang-ruang diskusi santai. Di warung kopi Kota Palu, misalnya, obrolan tentang figur kepemimpinan kepolisian kerap mengerucut pada satu nama tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa harapan terhadap sosok pemimpin baru Polda Sulteng tidak lagi bersifat elitis, melainkan telah menjadi aspirasi publik yang hidup di tengah masyarakat.
Ada beberapa alasan mengapa Jossy Kusumo dinilai sebagai figur yang tepat. Salah satu yang paling menonjol adalah tantangan nyata yang dihadapi Sulteng saat ini, yakni maraknya aktivitas tambang ilegal.
Persoalan ini bukan hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga memicu konflik sosial, merugikan negara, dan mengganggu stabilitas keamanan di daerah.
Dalam konteks ini, rekam jejak Jossy menjadi relevan. Saat menjabat sebagai Wakapolda Riau, ia dikenal turun langsung memimpin upaya pemberantasan tambang ilegal. Pendekatan yang tidak sekadar administratif, tetapi juga operasional di lapangan, menunjukkan karakter kepemimpinan yang tegas dan responsif.
Jossy tidak hanya mengandalkan laporan, tetapi memastikan penegakan hukum berjalan efektif dengan kehadiran langsung di titik-titik persoalan.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting. Sulteng membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memahami persoalan, tetapi juga memiliki keberanian dan kapasitas untuk menanganinya secara nyata.
Jossy dinilai memiliki kombinasi antara pengalaman, ketegasan, serta sensitivitas terhadap dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Di sisi lain, respons positif publik juga mencerminkan kerinduan akan figur kepemimpinan yang dipercaya. Di tengah kompleksitas tantangan keamanan saat ini, kepercayaan publik menjadi fondasi utama. Tanpa itu, sekuat apa pun kebijakan yang diambil, akan sulit mencapai efektivitas.
Akhirnya, wacana ini bukan sekadar tentang siapa yang akan menjabat, tetapi tentang harapan besar masyarakat Sulteng terhadap hadirnya kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan zaman.
Jika suara-suara dari media sosial hingga warung kopi menjadi cerminan, maka Jossy Kusumo bukan hanya sebuah nama, melainkan sosok yang diyakini akan membawa perubahan yang lebih baik.
Pada akhirnya, semua harapan dan perbincangan yang berkembang di tengah masyarakat ini akan kembali pada satu titik penentu keputusan negara. Apakah kepercayaan itu benar akan diberikan kepada Jossy Kusumo untuk memegang tongkat komando Polda Sulteng, atau justru arah kebijakan akan berlabuh pada sosok lain, semua masih menjadi tanda tanya.
Yang jelas, dinamika yang muncul hari ini menunjukkan bahwa publik tidak lagi diam. Mereka menaruh harapan, menilai rekam jejak, dan secara terbuka menyuarakan siapa yang dianggap layak. Namun, di atas segala ikhtiar dan wacana manusia, tetap ada satu keyakinan yang tak terbantahkan, semua bergantung pada kehendak-Nya …. wallahu a’lam.*

