Nama Datuk Karama atau Syekh Abdullah Raqie tidak hanya dikenang sebagai ulama yang pertama kali menyebarkan Islam di Tanah Kaili pada abad ke-17. Di balik perjuangan dakwahnya, terdapat kisah tentang keluarga yang turut menjadi bagian dari perjalanan sejarah Islam di Sulawesi Tengah.
Jejak keluarga Datuk Karama masih dapat ditelusuri melalui kompleks pemakamannya yang berada di Kelurahan Lere, Kota Palu. Kawasan yang dikenal sebagai Kompleks Makam Datuk Karama itu bukan hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir sang ulama, tetapi juga menyimpan makam istri, anak-anak, serta para pengikut setianya.
Berdasarkan catatan sejarah yang berkembang di masyarakat, istri Datuk Karama bernama Intje Dille. Sosoknya diyakini turut mendampingi perjuangan suaminya ketika syiar Islam mulai diperkenalkan kepada masyarakat Kaili yang pada masa itu masih memegang teguh kepercayaan leluhur.
Dari pernikahan tersebut, Datuk Karama dikaruniai dua orang anak, yakni Intje Dongko dan Intje Saribanu. Meski tidak banyak catatan sejarah yang mengulas kehidupan keduanya secara rinci, keberadaan makam mereka di kompleks yang sama menjadi penanda kuat bahwa keluarga Datuk Karama memiliki ikatan erat dengan perjalanan awal perkembangan Islam di Lembah Palu.
Kompleks makam tersebut juga menjadi saksi bahwa perjuangan Datuk Karama tidak dilakukan seorang diri. Di lokasi yang sama terdapat makam para pengikut setianya yang selama hidup ikut mendampingi penyebaran ajaran Islam. Tercatat terdapat sembilan makam laki-laki, sebelas makam perempuan, serta dua makam lain yang identitasnya tidak lagi diketahui karena tidak memiliki keterangan pada batu nisannya.
Keberadaan makam keluarga dan para pengikut itu menunjukkan bahwa dakwah yang dilakukan Datuk Karama bukan sekadar perjalanan seorang ulama, melainkan sebuah gerakan sosial dan keagamaan yang melibatkan banyak orang. Mereka bersama-sama membangun fondasi penyebaran Islam di Tanah Kaili melalui pendekatan yang damai, menghormati adat, serta mengedepankan keteladanan.
Hingga kini, Kompleks Makam Datuk Karama menjadi salah satu situs sejarah Islam yang paling dikenal di Sulawesi Tengah. Selain menjadi tujuan ziarah, kawasan tersebut juga menjadi pengingat bahwa penyebaran Islam di Bumi Tadulako tidak lepas dari peran keluarga dan orang-orang terdekat yang setia mendampingi perjuangan sang ulama.
Lebih dari tiga abad sejak wafatnya Datuk Karama, nama Intje Dille, Intje Dongko, dan Intje Saribanu tetap menjadi bagian dari warisan sejarah yang melekat pada sosok ulama besar tersebut. Keberadaan mereka melengkapi kisah perjuangan Datuk Karama, sekaligus mengingatkan bahwa di balik setiap tokoh besar, selalu ada keluarga yang ikut mengukir perjalanan sejarah, meski sering kali tidak banyak diceritakan. *


