JAKARTA, CS – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat hingga saat ini masih terkendala oleh faktor iklim. Fenomena kemarau ekstrem yang dipicu El Nino membuat tutupan awan di langit Kalbar amat minim, sehingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum bisa diterapkan secara optimal di wilayah tersebut.
Kondisi tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rustian, dalam konferensi pers yang berlangsung di kantor BNPB, Jakarta Timur, pada Rabu (2/9/2026). Ia membeberkan bahwa ketersediaan awan menjadi syarat mutlak untuk melakukan penyemaian garam guna menurunkan hujan buatan.
“Khusus untuk dari Kalimantan, ya, memang Kalimantan Barat tidak ada awan. Jadi salah satunya sekarang itu kami memperkuat Satgas darat,” kata Rustian.
Situasi di Kalimantan Barat berbeda dengan penanganan karhutla di wilayah Sumatra. Menurut Rustian, kondisi cuaca di Sumatra jauh lebih mendukung karena potensi awannya mencukupi untuk disemai, sehingga operasi hujan buatan berhasil memadamkan titik-titik api di sana.
“Kalau di Sumatra sudah terkendali karena memang kami melakukan operasi modifikasi cuaca dan awan ada, dan itu hujan turun. Jadi otomatis apinya mati,” tuturnya.
Meski OMC di Kalbar terhalang cuaca, BNPB memastikan penanganan titik api tetap berjalan intensif sesuai kriteria baku. Selain menggandakan kekuatan pasukan darat untuk menyisir area terbakar, satuan tugas udara juga disiagakan untuk menyiramkan air melalui metode water bombing.
“Tapi kalau seandainya ada awan, ya pasti dilakukan penyemaian untuk operasi modifikasi cuaca dan hujan turun,” tambah Rustian.
Selain Kalimantan dan Sumatra, BNPB turut menaruh perhatian pada titik karhutla di Papua yang dipicu kekeringan tajam akibat El Nino. Penanganan bencana di wilayah tersebut dioptimalkan lewat pendekatan pentahelix yang melibatkan kolaborasi lintas sektor.*


