NASIONAL, CS – Aktivitas vulkanik di Indonesia mengalami peningkatan signifikan pada Minggu (6/9) pagi. Sebanyak empat gunung api yang tersebar di pelbagai wilayah tercatat meletus secara hampir bersamaan hingga pukul 09.00 WIB.
Deretan gunung tersebut mencakup Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Ibu di Halmahera Barat.
Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan aktivitas sejak Jumat (4/9) malam hingga Minggu (6/9). Pada pukul 07.10 WIB, erupsi kembali terjadi dengan amplitudo maksimum seismograf mencapai 50 milimeter dan durasi 16 detik. Sebaran materi abu vulkaniknya terdeteksi mengarah ke dua wilayah utama, bahkan telah menjangkau kawasan DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, hingga perairan Bengkulu dan Lampung.
Sementara itu, Gunung Semeru di Jawa Timur memuntahkan kolom abu setinggi 1.000 meter di atas puncak pada pukul 07.51 WIB. Letusan ini terekam dengan amplitudo maksimum 23 milimeter selama 102 detik. Otoritas terkait mengimbau masyarakat untuk mengosongkan zona bahaya di sepanjang aliran Besuk Kobokan.
“Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak,” tulis Badan Geologi Kementerian ESDM dalam laporan resminya, Minggu (6/9).
Pihaknya juga menambahkan arahan bahaya lahar, “Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.”
Aktivitas erupsi juga melanda wilayah timur Indonesia. Gunung Ibu di Maluku Utara meletus pada pukul 04.55 WIT dengan tinggi kolom abu kelabu mencapai 400 meter di atas puncak. Laporan Badan Geologi mencatat letusan tersebut berdurasi 35 detik dengan amplitudo maksimum 15 milimeter.
Di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Gunung Ili Lewotolok mengudara dengan tinggi kolom abu tebal mencapai 600 meter di atas puncak pada pukul 06.41 WITA. Letusan yang condong ke arah tenggara ini memiliki amplitudo maksimum 40 milimeter serta durasi terekam selama 82 detik.
Masyarakat dan wisatawan yang berada di sekitar kawasan rawan bencana diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan, mematuhi rekomendasi zona aman dari Badan Geologi, serta mengantisipasi dampak sebaran abu vulkanik saat beraktivitas di luar ruangan.*


