NASIONAL, CS – Gelombang dugaan keracunan makanan pasca-konsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) meluas di berbagai daerah Indonesia sejak awal September 2026. Data terbaru mencatat hampir 2.000 orang, sebagian besar siswa sekolah dasar hingga menengah serta jajaran guru mengalami gejala gangguan pencernaan akut setelah menyantap hidangan yang dibagikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Wilayah terdampak tersebar mulai dari Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur, Rembang di Jawa Tengah, Agam di Sumatera Barat, Bener Meriah di Aceh, hingga Tana Toraja di Sulawesi Selatan. Gejala yang dialami para korban umumnya seragam, meliputi mual, pusing, muntah, gatal-gatal, sesak napas, hingga diare hebat secara bersamaan.

Di Sidoarjo, jumlah korban mencapai 730 santri dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam usai menyantap santapan MBG pada awal pekan. Dinas Kesehatan setempat mengonfirmasi sebagian besar korban kini berstatus rawat jalan setelah mendapatkan penanganan medis darurat. Kasus serupa menimpa 777 murid dan guru SMAN 1 Lasem di Rembang yang mendadak memadati fasilitas sanitasi sekolah akibat diare massal usai mengonsumsi menu nasi, ayam bakar, dan lalapan.

Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, menceritakan kondisi darurat saat ratusan anak didiknya mulai tumbang di lingkungan sekolah pada Kamis pagi.

“Diare dan bergantian masuk toilet. Total ada 40 toilet sehingga tidak mampu menampung semuanya. Padahal malamnya sudah diare tapi baru laporan hari ini,” ungkap Juhartutik.

Situasi serupa terjadi di Tana Toraja yang menimpa 152 pelajar dari dua sekolah menengah pertama. Sejumlah orang tua murid menyoroti kualitas sajian yang dinilai kurang layak dikonsumsi. Makanan yang didistribusikan diduga sudah berlendir, sementara daging ayam yang disajikan masih tampak kemerahan dan berbau amis.

Menanggapi insiden yang terus berulang ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menegaskan langkah tegas terkait potensi pelanggaran prosedur operasional di lapangan.

“Kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, mohon maaf, kami tidak bisa bantu,” tegas Sudaryono.

Sementara itu, pihak pengelola penyedia dapur gizi di daerah yang terdampak menyatakan komitmen penuh untuk menanggung seluruh biaya pengobatan para korban. Proses evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur pengelolaan dan pemrosesan bahan pangan kini tengah dilakukan untuk mengusut tuntas penyebab utama kontaminasi masal tersebut.*