PALU, CS – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah (Sulteng), Prof. Zainal Abidin, menilai Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang diinisiasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN sejalan dengan nilai-nilai universal seluruh agama, terutama dalam upaya mempersiapkan generasi yang sehat dan berkualitas.

Hal tersebut disampaikan Prof. Zainal saat memberikan penguatan spiritual dalam kegiatan penggalangan kepedulian untuk penanganan anak gagal tumbuh, yang dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di Kantor Perwakilan BKKBN Sulteng, Jumat (9/10/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Dharma Wanita Persatuan, para sesepuh Juang Kencana, penyuluh keluarga berencana (KB), serta penerima manfaat bantuan Program Genting.

Menurut Prof. Zainal, kepedulian terhadap pemenuhan kebutuhan anak sejak dini bukan hanya persoalan sosial dan kesehatan, tetapi juga bagian dari nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan pentingnya menjaga kehidupan serta mempersiapkan generasi masa depan.

“Genting sangat sesuai dengan ajaran Islam dan semua ajaran agama, dalam rangka mempersiapkan generasi yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak juga tercermin dalam ajaran Islam yang memberikan keringanan bagi ibu hamil untuk tidak menjalankan puasa Ramadan apabila dikhawatirkan berdampak pada kesehatan ibu maupun kecukupan nutrisi janin.

Penjelasan tersebut, menurutnya, menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan sejak masa kehamilan sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi yang lebih baik.

Meski demikian, Prof. Zainal mengingatkan bahwa penanganan stunting membutuhkan langkah konkret yang dilakukan secara berkelanjutan.

Bantuan sosial yang disalurkan kepada keluarga membutuhkan merupakan bentuk kepedulian, tetapi perlu disertai upaya lanjutan agar persoalan stunting dapat ditangani secara lebih menyeluruh.

“Perwakilan BKKBN sudah memberikan contoh dengan menyerahkan bantuan sembako. Akan tetapi, sembako saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah; ini hanyalah sekadar stimulan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa kepedulian terhadap keluarga berisiko stunting tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial. Dukungan berkelanjutan dan keterlibatan berbagai pihak diperlukan untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu dan anak, termasuk dalam aspek gizi dan kesehatan.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Zainal juga mengajak masyarakat untuk mengesampingkan ego sektoral dan memperkuat kebersamaan dalam menghadapi persoalan sosial, termasuk pencegahan stunting.

Menurutnya, semangat persaudaraan dan keselarasan dalam berpikir menjadi landasan penting untuk membangun kepedulian bersama serta memperluas manfaat program bagi masyarakat.

Ia pun mengingatkan pentingnya menjadikan semangat berbagi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, sehingga kepedulian tidak hanya dirasakan dalam kegiatan tertentu, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi sesama.

“ Hidup ini indah, tetapi akan jauh lebih indah jika kita berbahagia dan mampu membahagiakan orang lain,” demikian pesan Prof. Zainal. *