RIYADH, CS – Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan mulai mengarah pada keterlibatan langsung dalam konflik melawan Iran, seiring meningkatnya eskalasi serangan di kawasan Teluk dalam beberapa pekan terakhir.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan Arab Saudi telah membuka akses pangkalan udara strategis bagi militer Amerika Serikat, sementara Uni Emirat Arab mengambil langkah tegas dengan membatasi keberadaan institusi Iran di wilayahnya.

Keputusan tersebut menandai perubahan sikap kedua negara yang sebelumnya mendorong Washington untuk menahan aksi militer terhadap Iran. Namun, serangan rudal dan drone yang terus berlanjut dan menargetkan wilayah serta infrastruktur energi mereka disebut menjadi faktor pendorong perubahan kebijakan.

Arab Saudi dilaporkan menyetujui penggunaan Pangkalan Udara King Fahd di Taif oleh militer AS. Pangkalan tersebut dinilai memiliki posisi lebih aman dari ancaman serangan drone dibandingkan fasilitas militer lainnya di kawasan.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan Al Saud, sebelumnya menyatakan bahwa kesabaran negaranya terhadap serangan Iran memiliki batas. Sementara itu, sejumlah sumber menyebutkan kemungkinan keterlibatan langsung Saudi dalam konflik hanya tinggal menunggu waktu.

Di sisi lain, Uni Emirat Arab mengambil langkah paralel dengan menutup sejumlah institusi yang terkait Iran, termasuk sekolah, rumah sakit, dan organisasi sosial. Pemerintah juga memerintahkan sejumlah warga Iran yang memiliki keterkaitan dengan pemerintah untuk meninggalkan negara tersebut.

Langkah tersebut dilakukan setelah gelombang serangan yang melibatkan lebih dari seribu drone dan ratusan rudal balistik menghantam wilayah UEA dalam dua pekan terakhir, menyebabkan korban jiwa dan luka-luka.

Selain itu, UEA dilaporkan tengah mempertimbangkan pembekuan aset Iran bernilai miliaran dolar yang tersimpan di negara tersebut. Kebijakan ini dinilai dapat berdampak signifikan terhadap akses Iran terhadap sumber keuangan internasional.

Eskalasi konflik meningkat setelah Iran memperluas target serangan ke fasilitas energi di kawasan Teluk. Beberapa fasilitas gas di Qatar dan Uni Emirat Arab dilaporkan turut menjadi sasaran serangan.

Hingga kini, negara-negara Teluk belum secara resmi mengerahkan pasukan militer dalam konflik tersebut. Namun, para analis menilai intensitas serangan yang terus meningkat berpotensi mendorong keterlibatan langsung dalam waktu dekat. *