JAKARTA, CS – Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka merosot tajam. Survei Tempo Data Science mencatat hanya 37 persen responden yang menyatakan puas atau sangat puas terhadap kinerja pemerintah pada Agustus 2026.
Angka tersebut menunjukkan penurunan yang konsisten dalam delapan bulan terakhir. Pada Desember 2025, tingkat kepuasan publik masih mencapai 75 persen. Angka itu kemudian turun menjadi 58 persen pada Maret 2026 dan kembali merosot menjadi 37 persen pada Agustus 2026.
General Manager Tempo Data Science, Khairul Anam, mengatakan penurunan kepuasan publik berlangsung cukup cepat.
“Di Desember 2025, approval rating masih di 75 persen, kemudian Maret 2026 itu turun di 58 persen, dan Agustus 2026 turun di 37 persen,” ujar Anam saat memaparkan hasil survei di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Dengan demikian, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran telah turun 38 poin persentase dibandingkan Desember 2025.
Mayoritas Responden Tidak Puas
Survei tersebut menunjukkan kelompok yang tidak puas kini lebih besar daripada mereka yang memberikan penilaian positif.
Sebanyak 34 persen responden menyatakan puas dan 3 persen lainnya sangat puas. Sebaliknya, 50 persen responden mengaku kurang puas dan 12 persen tidak puas sama sekali.
Adapun 1 persen responden memilih tidak tahu atau tidak menjawab. Dengan komposisi tersebut, total responden yang menyatakan kurang puas atau tidak puas mencapai 62 persen.
Penilaian terhadap kinerja pemerintahan juga relatif rendah. Dalam skala 1 sampai 10, rata-rata skor kinerja Prabowo-Gibran hanya 5,7. Secara terpisah, Prabowo memperoleh skor 5,8, sedangkan Gibran mendapatkan 5,3.
Harga Kebutuhan Pokok Jadi Sorotan
Persoalan ekonomi menjadi salah satu faktor utama di balik turunnya kepuasan publik.
Sebanyak 27 persen responden menyebut mahalnya atau terus naiknya harga kebutuhan pokok sebagai alasan ketidakpuasan. Sebanyak 14 persen lainnya menyoroti sulitnya mendapatkan pekerjaan atau tingginya pengangguran.
Kemudian, 13 persen responden menilai kondisi ekonomi memburuk atau tidak stabil. Sebanyak 10 persen menilai kebijakan pemerintah tidak tepat sasaran, sedangkan 8 persen menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap bermasalah atau tidak memberikan manfaat.
Temuan tersebut sejalan dengan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi secara umum. Dalam survei, 68 persen responden menilai kondisi ekonomi nasional saat ini buruk atau semakin memburuk.
Tekanan paling terasa pada harga kebutuhan sehari-hari. Sebanyak 77 persen responden mengatakan harga bahan pokok jauh lebih mahal dibandingkan sebelumnya. Sementara itu, 16 persen lainnya menilai kebutuhan pokok menjadi lebih mahal.
Persoalan lapangan kerja juga menjadi perhatian. Sebanyak 57 persen responden menilai mencari pekerjaan kini jauh lebih sulit, sedangkan 30 persen lainnya mengatakan mencari pekerjaan masih sulit.
Pemerintah Diminta Fokus pada Ekonomi
Survei Tempo Data Science juga memetakan persoalan yang dianggap perlu segera diperbaiki pemerintah.
Menurunkan atau menstabilkan harga kebutuhan pokok menjadi prioritas yang paling banyak dipilih, yakni 19 persen responden. Berikutnya, 16 persen meminta pemerintah memperbanyak dan mempermudah lapangan pekerjaan.
Sebanyak 13 persen meminta perbaikan kondisi ekonomi masyarakat. Kemudian 9 persen menginginkan peningkatan kinerja dan kompetensi pejabat atau aparat pemerintah, sementara 8 persen meminta evaluasi terhadap program MBG.
Meski tingkat kepuasan terhadap kinerja pemerintah turun, persepsi publik terhadap arah Indonesia belum sepenuhnya negatif. Survei yang sama mencatat 52 persen responden masih menilai Indonesia bergerak ke arah yang benar di bawah pemerintahan Prabowo-Gibran.
Metodologi Survei
Survei Tempo Data Science dilakukan pada 31 Juli hingga 11 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.260 responden yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi.
Responden merupakan warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih, yakni berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah.
Pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling, sedangkan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka. Survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan sampling error sekitar ±2,9 persen.
Penurunan kepuasan dari 75 persen menjadi 37 persen dalam kurun delapan bulan menjadi sinyal kuat bahwa persoalan ekonomi sehari-hari, terutama harga kebutuhan pokok dan akses terhadap pekerjaan, kian menentukan penilaian masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran.*


