Di tengah keterbatasan akses dan belum tersentuhnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), anak-anak SDK Ogolau, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng), tetap memiliki alasan untuk menanti waktu makan di sekolah.

Bukan kotak makanan dari program pemerintah yang mereka tunggu. Melainkan masakan sederhana yang dibawa seorang guru, Riska Andriani, yang kemudian viral di media sosial (medsos), dan mendapat apresiasi dari netizen.

Riska menyebutnya MBG “Masakan Bu Guru”.

Inisiatif itu lahir bukan dari sebuah program besar yang dirancang sejak awal. Semuanya bermula dari kegelisahan seorang guru ketika melihat murid-muridnya datang ke sekolah tanpa bekal dan tanpa uang untuk membeli jajanan.

Sebagian anak memang membawa bekal. Namun, isinya sederhana, bahkan ada yang hanya nasi dengan lauk ikan kering.

Dari keseharian itulah Riska mulai berpikir bahwa kebutuhan makan anak-anak selama berada di sekolah tidak bisa begitu saja diabaikan.

“Sejak awal Mei. Itu bukan MBG, karena di sekolah kami tidak pernah mendapat program tersebut. Saat itu saya melihat kondisi anak-anak di sekolah tanpa jajan dan bekal dari rumah. Ada satu dua anak yang bawa bekal, tapi itu hanya nasi dan lauk ikan kering seadanya,” kata Riska.

Riska juga mendapat cerita mengenai kondisi sejumlah murid yang hidup dalam keterbatasan. Bahkan, persoalan kebutuhan makanan disebut menjadi bagian dari keseharian sebagian keluarga mereka.

Kondisi itu membuatnya memilih melakukan sesuatu yang sederhana.

Bukan menunggu bantuan datang, Riska menggunakan sebagian gaji sertifikasinya untuk membeli susu dan makanan ringan yang kemudian dibagikan kepada murid.

Momen tersebut ia abadikan dan unggah ke media sosial.

Awalnya, unggahan itu bukan ajakan untuk berdonasi. Riska hanya ingin berbagi cerita tentang kehidupan anak-anak di tempatnya mengajar kepada orang-orang yang mengikutinya di media sosial.

Namun, sebuah pertanyaan dari salah seorang pengikut kemudian mengubah cerita tersebut.

“Dari situ ada salah satu pengikutku yang bertanya, ‘di sana ada MBG kak?’. Dan kujawab belum ada,” ujar Riska.

Jawaban sederhana itu justru membuka pintu solidaritas.

Satu per satu orang mulai menawarkan bantuan. Mereka adalah orang-orang yang bahkan belum pernah bertemu dengan anak-anak di SDK Ogolau. Jarak tidak menjadi penghalang untuk ikut berbagi.

Awalnya, bantuan ditujukan untuk membeli susu dan roti. Namun, setelah melihat kebutuhan anak-anak, bentuk bantuan kemudian berkembang menjadi makanan lengkap.

Ada donatur yang mengusulkan agar bantuan digunakan untuk membuat bekal nasi dengan lauk ayam.

Dari situlah kegiatan “Masakan Bu Guru by teman-teman Ibu Guru” mulai berjalan.

Riska menegaskan, makanan tersebut bukan bagian dari program MBG pemerintah.

Ia hanya menjadi penerima amanah dari para donatur sekaligus memastikan bantuan yang diberikan benar-benar sampai kepada anak-anak.

“Itu murni muncul dari rasa empati dari mereka. Saya hanya menyampaikan amanah itu,” katanya.

Empat Puluh Porsi dari Sebuah Kepedulian

Kini, sekitar 40 porsi makanan dapat disiapkan setiap kali kegiatan berlangsung.

Menu yang disajikan pun tidak dibuat rumit. Nasi ayam, nasi kuning, hingga nasi telur menjadi menu yang dibuat bergantian, disesuaikan dengan permintaan anak-anak.

Seluruh kebutuhan memasak, mulai dari bahan makanan hingga peralatan, ditanggung para donatur.

“Semua kebutuhan masak mencakup alat dan bahan ditanggung donatur,” ujar Riska.

Dengan dukungan tersebut, beban tidak sepenuhnya berada di pundak Riska. Ia menjalankan perannya sebagai guru yang menerima dan menyalurkan amanah.

Namun, ada hal lain yang membuat kegiatan tersebut menjadi lebih berarti.

Untuk sampai ke SDK Ogolau, makanan harus dibawa menuju wilayah dengan akses yang tidak mudah. Perjalanan menjadi bagian dari perjuangan sebelum makanan akhirnya tiba di tangan anak-anak.

Bagi Riska, lelah selama perjalanan seolah terbayar ketika melihat wajah murid-muridnya.

“Yang pasti mereka senang dengan makan enak yang kami bawa mendaki hingga puncak,” tuturnya.

Anak-anak menyebut makanan tersebut enak. Tetapi bagi Riska, respons yang paling membekas bukanlah pujian terhadap masakan.

Melainkan ucapan terima kasih.

“Momen paling kuingat adalah setiap hari saya mendapat puluhan ucapan terima kasih dari anak-anak dan orang tua,” katanya.

Ucapan itu menjadi pengingat bagi Riska bahwa satu porsi makanan sederhana dapat memiliki arti besar bagi penerimanya.

Di balik nasi dan lauk yang disajikan, ada rasa bahagia anak-anak, rasa syukur orang tua, dan kepedulian orang-orang yang bahkan berada jauh dari Ogolau.

Bukan Sekadar Soal Makanan

Riska menyebut sekolahnya belum pernah menerima MBG sejak program tersebut mulai tersedia di sejumlah sekolah lain.

Padahal, SDK Ogolau berada di desa yang sama dengan dua sekolah lainnya.

Menurut Riska, dari tiga sekolah yang berada di desa tersebut, sekolah tempatnya mengajar menjadi satu-satunya yang belum dijangkau program MBG.

“Jadi sekolah kamilah satu-satunya dari tiga sekolah yang berada di satu desa yang sama yang belum dijangkau MBG,” ujarnya.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan tentang persoalan akses.

Bagi Riska, memastikan program pemerintah menjangkau anak-anak di wilayah pelosok bukan hanya persoalan menyediakan makanan. Ada persoalan geografis dan infrastruktur yang harus diperhatikan.

Ia menilai akses menuju sekolah menjadi salah satu hal yang mendesak untuk dibenahi.

“Yang mendesak yang perlu diperbaiki adalah jalan menuju sekolah kami,” katanya.

Menurut dia, perbaikan jalan akan memberikan manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar mempermudah distribusi MBG.

“Bukan hanya untuk program MBG, tapi untuk semua program termasuk kemudahan akses mobilitas masyarakat, barang, serta fasilitas penunjang pendidikan lainnya,” ujarnya.

Dengan demikian, persoalan yang dihadapi anak-anak SDK Ogolau tidak berhenti pada ketersediaan makanan.

Ada jalan yang harus dibenahi, jarak yang harus ditempuh, serta akses yang perlu dibuka agar berbagai program dan pelayanan dapat dirasakan secara lebih merata.

Ketika Guru Memilih untuk Peduli

Sambil menunggu hadirnya program MBG di sekolahnya, Riska memilih tetap melakukan apa yang bisa dilakukannya.

Ia memasak. Para donatur membantu menyediakan kebutuhan. Riska memastikan makanan sampai kepada murid. Anak-anak kemudian menyambutnya dengan sukacita.

Sebuah gerakan kecil yang bermula dari kepedulian seorang guru itu akhirnya tumbuh menjadi solidaritas bersama.

“Masakan Bu Guru” mungkin bukan pengganti program pemerintah. Riska pun tidak pernah menyebutnya demikian.

Namun, inisiatif tersebut menunjukkan bahwa kepedulian dapat tumbuh dari tempat yang sederhana, dari seorang guru yang melihat kebutuhan muridnya, lalu memilih untuk tidak berpaling.

Di pelosok Ogolau, sekitar 40 porsi makanan mungkin terlihat sederhana.

Tetapi bagi anak-anak yang menerimanya, sepiring nasi bukan hanya soal mengisi perut. Ada perhatian yang mereka rasakan, ada kepedulian yang mereka terima, dan ada pesan bahwa mereka tidak sendirian.

Sambil menunggu akses yang lebih baik dan program pemerintah menjangkau sekolah mereka, Riska tetap memasak dan anak-anak tetap menunggu dengan senyum.

Sumber: IDN Times