MANILA, CS – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia, telah terbawa hingga ke Manila, Filipina. Kondisi tersebut membuat kualitas udara di sejumlah wilayah Metro Manila berada pada kategori sangat tidak sehat hingga sangat berbahaya bagi kesehatan.

Dilansir dari laporan media lokal Filipina, ABS-CBN dan Inquirer.net, kondisi tersebut terpantau pada Selasa (1/9/2026). Wilayah Paranaque, Quezon City, dan Las Pinas menjadi sejumlah daerah dengan kualitas udara terburuk.

Departemen Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Filipina melalui Biro Pengelolaan Lingkungan untuk Wilayah Ibu Kota Nasional (DENR-NCR) melaporkan tingginya konsentrasi PM2,5 di sejumlah kawasan Metro Manila.

PM2,5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil, dengan diameter 2,5 mikrometer atau kurang. Partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan dan meningkatkan risiko kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan.

Berdasarkan pemantauan DENR-EMB pada Selasa (1/9) sekitar pukul 06.00 waktu setempat, Paranaque mencatat indeks kualitas udara (AQI) mencapai 296. Sementara itu, Quezon City berada di angka 241 dan Las Pinas mencapai 237.

Kota Manila sendiri mencatat AQI sebesar 231.

Angka tersebut masuk kategori Acutely Unhealthy atau sangat berbahaya bagi kesehatan. Pada rentang AQI 201-300, dampak buruk kualitas udara dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas sehingga aktivitas di luar ruangan perlu dibatasi.

Sementara sebagian wilayah lain di Metro Manila berada pada kategori Very Unhealthy atau sangat tidak sehat dengan AQI 151-200. Dalam kondisi tersebut, otoritas Filipina memperingatkan bahwa kesehatan masyarakat dengan gangguan jantung dan paru-paru dapat memburuk.

Asap Menyeberangi Laut

Fisikawan atmosfer sekaligus profesor meteorologi di Institut Ilmu Lingkungan dan Meteorologi Universitas Filipina, Dr Gerry Bagtasa, menjelaskan bahwa pergerakan asap tersebut berkaitan dengan pola angin.

Menurutnya, citra satelit menunjukkan masih terdapat titik api aktif di sejumlah wilayah Kalimantan bagian barat dan selatan dalam beberapa hari terakhir.

Pola angin yang tidak biasa kemudian membawa asap dari Kalimantan menuju Filipina. Kondisi tersebut memungkinkan polutan melintasi garis khatulistiwa dan mencapai wilayah Metro Manila.

Pergerakan asap lintas negara itu turut menyebabkan kondisi berkabut di sejumlah kawasan ibu kota Filipina.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti di wilayah tempat kebakaran terjadi. Ketika asap terbawa angin dalam jarak jauh, kualitas udara di negara lain juga dapat terdampak.

Pemerintah Indonesia sendiri telah merespons laporan mengenai asap karhutla yang mencapai Filipina. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan pemerintah akan bekerja keras menangani persoalan tersebut.

“Ya kami akan berjuang sekuat tenaga,” kata Raja Juli seusai rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Raja Juli menegaskan pemerintah berupaya agar masyarakat Indonesia terbebas dari dampak karhutla sekaligus memastikan asap kebakaran tidak merugikan negara-negara tetangga.

“Kita akan berjuang sekuat tenaga ya untuk bagaimana masyarakat Indonesia bisa terbebas dari karhutla dan juga kepada masyarakat tetangga-tetangga kita,” ujarnya.

Masuknya asap karhutla Kalimantan ke Filipina menjadi perhatian karena memperlihatkan luasnya dampak kebakaran hutan dan lahan. Selain mengganggu kualitas udara di dalam negeri, asap yang terbawa angin juga berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan dan kesehatan lintas batas.*