Siang itu seharusnya berlangsung seperti hari-hari biasa. Makan, beristirahat, kemudian kembali menjalani aktivitas.
Namun, bagi sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, makan siang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru berakhir dengan keluhan kesehatan dan perawatan di rumah sakit.
Di balik angka 512 santri terdampak yang disampaikan Badan Gizi Nasional (BGN), terdapat kecemasan keluarga yang harus menghadapi situasi tak terduga ketika anak mereka tiba-tiba jatuh sakit.
Aminah, salah satu orang tua santri, masih mengingat waktu ketika anaknya mulai mengalami keluhan.
Anaknya disebut mengonsumsi makanan sekitar pukul 13.00 WIB. Sekitar dua setengah jam kemudian, kondisi mulai berubah. Anak itu mengeluhkan pusing, mual dan diare.
Bagi orang tua, sakit yang dialami anak bukan sekadar persoalan angka dalam laporan penanganan. Ada kepanikan, kebingungan dan pertanyaan yang muncul hampir bersamaan.
Penanganan kemudian berlangsung di sejumlah fasilitas kesehatan. Santri yang mengalami keluhan harus mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis.
Di tengah situasi tersebut, kekhawatiran orang tua juga berhadapan dengan ketidakpastian. Mereka belum mengetahui apa yang sebenarnya membuat anak-anak mereka jatuh sakit setelah menyantap makanan yang seharusnya menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan gizi.
Program MBG hadir dengan tujuan memenuhi kebutuhan gizi anak. Namun, di Sidoarjo, sebagian keluarga justru harus menemani anak mereka menjalani pemeriksaan dan perawatan setelah munculnya keluhan kesehatan.
Kontras itu terasa kuat bagi keluarga korban.
Kasus tersebut kemudian mendapat perhatian serius dari pemerintah. BGN melakukan investigasi bersama Dinas Kesehatan dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM).
Hasil investigasi menemukan sejumlah ketidaksesuaian dalam pelaksanaan distribusi makanan MBG. Di antaranya persoalan pelabelan wadah makanan serta keterlambatan distribusi.
BGN menyebut makanan didistribusikan lebih dari empat jam setelah matang sehingga telah melewati batas waktu aman konsumsi. Selain itu, ditemukan ketidaksesuaian antara waktu makanan selesai dimasak, waktu pengiriman dan waktu makanan dikonsumsi di lapangan.
Namun, BGN belum menyimpulkan penyebab medis pasti dari kejadian tersebut.
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan pasien masih ditunggu untuk memastikan agen penyebab, termasuk kemungkinan bakteri atau toksin.
Artinya, di tengah keresahan keluarga, satu pertanyaan penting masih menunggu jawaban: apa sebenarnya yang membuat ratusan santri jatuh sakit?
Sementara proses investigasi berjalan, kondisi para santri berangsur membaik. Dari 512 santri yang tercatat terdampak, sebanyak 312 telah diperbolehkan pulang dalam kondisi sembuh. Sebanyak 80 santri masih menjalani perawatan di rumah sakit dan 120 lainnya masih dalam observasi berdasarkan pembaruan data BGN.
Tidak ada korban meninggal dunia dalam insiden tersebut. Informasi mengenai adanya korban meninggal yang sempat beredar di media sosial telah dikonfirmasi sebagai hoaks.
Bagi orang tua seperti Aminah, kabar anak mulai membaik tentu menjadi kelegaan. Namun, pengalaman tersebut meninggalkan kekhawatiran yang tidak mudah hilang.
Di sisi lain, BGN telah mengambil sejumlah langkah. SPPG Talang Angin/Kalitengah, Sidoarjo, dihentikan sementara selama 30 hari untuk evaluasi dan perbaikan.
BGN juga mengusulkan pencopotan kepala SPPG tersebut dari jabatannya. Pihak yang terbukti lalai dalam pelaksanaan MBG juga disebut dapat diproses secara hukum.
Kepala BGN Sudaryono menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut dan mengakui adanya kelalaian dalam aspek pelabelan serta distribusi makanan.
BGN juga menggunakan sistem pemantauan Radar MBG untuk merekonstruksi kronologi pelaksanaan program, termasuk proses produksi hingga distribusi makanan.
Namun, bagi keluarga yang anaknya sempat terbaring di rumah sakit, evaluasi dan sanksi bukan satu-satunya hal yang penting.
Ada kebutuhan yang lebih sederhana: memastikan anak-anak mereka aman ketika menerima makanan yang seharusnya memberi manfaat bagi kesehatan.
Sebab, bagi orang tua, satu piring makanan bukan sekadar menu makan siang.
Di dalamnya ada kepercayaan bahwa sesuatu yang diberikan kepada anak mereka memang aman untuk dikonsumsi.
Dan ketika kepercayaan itu berubah menjadi perjalanan menuju rumah sakit, yang tersisa adalah kecemasan sekaligus harapan agar kejadian serupa tidak kembali dialami anak-anak lainnya.*


