BRUSSEL, CS – Bursa saham Eropa rapuh pada perdagangan Kamis seiring memudarnya reli pasar yang sempat terjadi sehari sebelumnya, di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah memasuki hari keenam.
Indeks utama kawasan Eropa tercatat turun pada awal perdagangan. Indeks EURO STOXX 50 melemah sekitar 0,6 persen, sementara STOXX Europe 600 turun 0,3 persen, menghapus sebagian keuntungan dari reli yang terjadi pada perdagangan Rabu.
Penurunan ini terjadi setelah investor kembali menilai risiko konflik berkepanjangan, terutama setelah Iran mengklaim menguasai Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Ketegangan geopolitik meningkat sejak serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari dalam operasi militer yang disebut Washington sebagai “Operasi Epic Fury”. Serangan tersebut menargetkan fasilitas militer, nuklir, serta pusat pemerintahan Iran.
Konflik tersebut juga dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang memicu eskalasi balasan dari Teheran terhadap sejumlah target di kawasan Timur Tengah.
Dampak konflik langsung terasa di pasar keuangan global. Pada awal pekan ini, harga minyak berjangka melonjak lebih dari 8 persen, sementara indeks saham di Amerika Serikat juga mengalami tekanan tajam.
Indeks Dow Jones Industrial Average sempat anjlok lebih dari 1.200 poin sebelum akhirnya ditutup melemah sekitar 400 poin. Sementara itu, S&P 500 turun 0,9 persen dan Nasdaq Composite melemah sekitar 1 persen.
Di kawasan Eropa, STOXX 600 mencatat penurunan dua hari terburuk sejak April setelah merosot hingga 3,1 persen pada perdagangan Selasa, menurut laporan Bloomberg.
Tekanan juga terjadi di pasar Asia. Indeks KOSPI di Korea Selatan dilaporkan anjlok hingga 12 persen pada perdagangan Rabu dalam salah satu penurunan terbesar dalam sejarah pasar negara tersebut.
Para analis memperingatkan konflik berkepanjangan dapat mendorong harga minyak dunia melampaui 100 dolar AS per barel, yang berpotensi memicu lonjakan inflasi global di tengah tekanan harga yang masih tinggi.
“Investor khawatir akan munculnya tekanan inflasi tambahan,” kata manajer portofolio senior di Dakota Wealth, Robert Pavlik, seperti dikutip Fox Business.
Menurut laporan Reuters, ketidakpastian yang meningkat juga mendorong investor beralih ke uang tunai setelah sejumlah aset safe haven tradisional, termasuk emas dan obligasi, ikut mengalami tekanan pada awal pekan.
Pasar obligasi global juga mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve, dengan perkiraan pemangkasan suku bunga mundur dari Juli menjadi September tahun ini.
Sementara itu, konflik di kawasan Timur Tengah masih terus berlangsung. Iran dilaporkan melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone ke sejumlah target di Israel, pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan regional, serta beberapa negara Teluk.
Sedikitnya lima anggota militer Amerika Serikat dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga telah mengeluarkan imbauan kepada warga negaranya untuk segera meninggalkan kawasan yang terdampak konflik. *

