JAKARTA, CS – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai mengguncang perekonomian negara-negara Asia. Lonjakan harga energi, pelemahan mata uang, serta potensi meningkatnya inflasi menjadi dampak yang mulai dirasakan sejumlah negara di kawasan tersebut.

Ketegangan di Timur Tengah memicu gangguan pada jalur energi global, terutama di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.

Gangguan terhadap jalur tersebut menyebabkan harga minyak melonjak dan menimbulkan tekanan bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi.

India menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Negara itu mengimpor lebih dari 80 persen kebutuhan minyak mentahnya, dengan sekitar setengah pasokan berasal dari Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat ekonomi India sangat sensitif terhadap kenaikan harga energi.

Tekanan pasar juga tercermin pada nilai tukar rupee India yang jatuh ke rekor terendah. Mata uang tersebut sempat menembus level 92 per dolar Amerika Serikat sebelum bank sentral India melakukan intervensi dengan menjual dolar untuk menahan pelemahan lebih lanjut.

Kenaikan harga minyak juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi domestik India. Sejumlah analis memperkirakan setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar 10 dolar per barel dapat memangkas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) India hingga sekitar 0,5 persen serta meningkatkan tekanan inflasi.

Selain India, Tiongkok sebagai importir minyak terbesar di dunia juga menghadapi risiko serupa. Pasokan energi negara tersebut sebagian berasal dari Iran dan Venezuela, sehingga gangguan terhadap rantai pasok global dapat memengaruhi stabilitas energi domestik.

Pemerintah Tiongkok dilaporkan mulai mengambil langkah untuk menjaga ketersediaan energi dalam negeri dengan membatasi kontrak ekspor bahan bakar baru. Sementara itu, harga solar di pasar domestik mengalami kenaikan tajam dalam waktu singkat.

Di Jepang, pemerintah menyatakan kesiapan mengambil langkah kebijakan guna menahan dampak gejolak energi global. Negara tersebut memperoleh sekitar 90 persen pasokan minyaknya dari kawasan Timur Tengah, sehingga sangat rentan terhadap gangguan distribusi energi.

Pelemahan mata uang juga mulai terlihat di Jepang, dengan yen mendekati level yang memicu kekhawatiran otoritas moneter. Kondisi ini berpotensi mempengaruhi kebijakan Bank of Japan yang diperkirakan menunda kenaikan suku bunga guna menjaga stabilitas ekonomi.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak juga memicu kenaikan margin kilang minyak di Asia ke level tertinggi sejak 2022. Harga listrik berjangka di Jepang bahkan dilaporkan melonjak lebih dari 30 persen dalam sepekan.

Para analis memperingatkan bahwa jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut dan gangguan terhadap jalur energi global tidak segera teratasi, dampaknya dapat memperburuk neraca transaksi berjalan sejumlah negara Asia dan meningkatkan tekanan inflasi di kawasan tersebut.

Ketergantungan tinggi terhadap impor energi membuat negara-negara Asia menghadapi risiko ekonomi yang semakin besar apabila konflik geopolitik tersebut berkepanjangan. **