TEHERAN, CS – Iran menegaskan akan terus melanjutkan perang melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel hingga seluruh tuntutannya dipenuhi, termasuk pembayaran ganti rugi dan pencabutan sanksi ekonomi.
Pernyataan tersebut disampaikan penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, saat konflik memasuki hari ke-25.
Ia menegaskan bahwa penghentian perang bergantung pada terpenuhinya syarat-syarat yang diajukan Teheran.
“Perang akan terus berlanjut hingga semua ganti rugi dibayarkan kepada Iran dan semua sanksi ekonomi dicabut,” ujar Rezaei, seperti dikutip kantor berita Fars, Selasa (24/3/2026).
Selain itu, Iran juga menuntut jaminan hukum internasional atas non-intervensi Amerika Serikat dalam urusan dalam negeri mereka. Rezaei menyebut tuntutan tersebut merupakan keputusan bersama pemerintah, pemimpin tertinggi, dan angkatan bersenjata Iran.
Pernyataan itu muncul di tengah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menyebut adanya pembicaraan “produktif” antara kedua pihak. Trump juga mengumumkan penundaan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh pejabat Iran. Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan tidak ada negosiasi yang berlangsung dengan Amerika Serikat dan menyebut pernyataan tersebut sebagai upaya manipulasi.
Kementerian Luar Negeri Iran juga menyatakan bahwa inisiatif perdamaian sejauh ini hanya datang dari mediator kawasan Timur Tengah, serta menilai pernyataan Washington sebagai langkah untuk mengulur waktu.
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026, sikap Iran terhadap penyelesaian perang terus mengeras. Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyatakan bahwa satu-satunya jalan mengakhiri konflik adalah melalui pengakuan hak Iran, pembayaran ganti rugi, dan jaminan internasional terhadap keamanan di masa depan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima gencatan senjata sementara tanpa kepastian berakhirnya ancaman serangan di masa mendatang.
Di tengah eskalasi tersebut, pasar global turut merespons. Harga minyak sempat turun setelah pernyataan dari pihak Amerika Serikat, namun kembali naik menyusul penegasan Iran yang menolak adanya kemajuan diplomatik. *

