SIDOARJO, CS – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap sejumlah pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam distribusi makanan pada kasus keracunan massal yang dialami santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo.
Hasil investigasi BGN bersama Dinas Kesehatan dan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) menemukan adanya ketidaksesuaian dalam proses pelabelan, distribusi hingga rantai pasok makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyuplai program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke pondok pesantren tersebut.
Kepala BGN, Sudaryono menyebut, salah satu temuan utama adalah pelabelan wadah makanan yang tidak sesuai SOP. Tidak seluruh ompreng atau wadah makanan diberikan label secara individual. Dalam praktiknya, hanya terdapat satu label untuk satu penanggung jawab atau PIC.
Kondisi tersebut dinilai menyulitkan proses pelacakan serta pengawasan keamanan makanan pada setiap wadah yang didistribusikan.
Selain persoalan pelabelan, BGN menemukan adanya keterlambatan distribusi makanan. Makanan didistribusikan lebih dari empat jam setelah matang atau telah melewati batas waktu aman konsumsi.
Keterlambatan tersebut dapat meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.
BGN juga menemukan ketidaksesuaian dalam rantai pasok, terutama antara waktu makanan selesai dimasak, waktu pengiriman dan waktu makanan dikonsumsi oleh para santri.
Sementara itu, informasi mengenai adanya kontaminasi ekstrem berupa ulat atau belatung pada makanan telah dibantah. Berdasarkan verifikasi internal BGN Jawa Timur, informasi tersebut dinyatakan sebagai hoaks.
Meski demikian, BGN belum menyimpulkan penyebab medis secara spesifik dalam insiden tersebut. Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan maupun pasien masih dilakukan untuk mengetahui jenis bakteri atau toksin yang kemungkinan menjadi penyebab.
Dalam insiden tersebut, BGN mencatat sebanyak 512 santri terdampak atau terpapar.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 312 santri telah diperbolehkan pulang dalam kondisi sembuh. Sementara 80 santri masih menjalani perawatan di rumah sakit dan 120 lainnya masih dalam tahap observasi berdasarkan pembaruan data awal BGN.
BGN juga memastikan tidak terdapat korban meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Informasi mengenai adanya santri yang meninggal dunia yang beredar di media sosial telah dikonfirmasi sebagai hoaks.
BGN masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab medis dari insiden tersebut. Sementara itu, evaluasi terhadap penerapan SOP distribusi makanan di SPPG terus dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan pelaksanaan program MBG. *


